UNDP Internship!

Oktober 18, 2012 at 9:51 am (Dan Sebagainya, Keseharian, Uncategorized) (, , , , , , , )

Memiliki waktu sekitar 8 bulan penuh untuk internship membuat saya berkesempatan mencoba magang di dua tempat yang tipenya jauh berbeda. Setelah Unilever, private company yang bergerak di bidang Fast Moving Consumer Goods, saya mencoba mencapai mimpi untuk bekerja di bidang kemanusiaan. Setelah (agak) mengejar-ngejar konfirmasi HRD-nya dengan telepon, United Nations Development Programme, cabang program PBB yang bekerja di bidang pengembangan manusia (Human Development) akhirnya menjadi penadah mimpi tersebut.

Rumah kedua selama 3 bulan sambil mengganggu satu-satunya staf UNV disitu.

3 bulan bersarang di Communications Unit (walau duduknya sih di kantor United Nations Volunteer) membuat saya jadi lumayan paham bagaimana cara UN bekerja dari dalam. Terlebih, Comms Unit UNDP sedang dalam masa-masa awal mempopulerkan isu-isu yang mereka junjung lewat social media, jadi saya juga ikutan belajar menggunakan benda yang dulunya masih saya anggap misterius ini.

Detilnya apa saja sih yang saya kerjakan?

1. Social Media Management
Tentu tugas ini spesifik bagi intern di Comms Unit. Kalau kamu magang di Finance, HRD atau bahkan Environmental Sustainability Unit pasti kamu dapatnya tugas yang paralel dengan yang Unit kamu kerjakan. Intinya saya harus secara konstan men-suplai Facebook dan Twitter UNDP dengan feeds, entah memberikan quick facts, info lowongan, info kompetisi, info campaign… Tujuannya yang pasti makin banyak yang dibangun kesadarannya soal isu-isu apa yang UNDP atau UN kerjakan di Indonesia secara general, dan bagaimana mereka bisa berpartisipasi dalam isu tersebut.

2. Assisting Daily Duties di Comms Unit
Apakah ada acara yang lagi nge-trend dan jadi prioritas di UNDP? Tugas kalan pasti berhubungan erat dengan acara itu. Misal ketika kemarin Ban Ki Moon transit di Indonesia, orang-orang di Admin Unit heboh banget.

Ketika sedang sibuk membuat Annual Report, saya ikutan ke tempat printing & editingnya.

Selain itu, kebanyakan yang akan kita kerjakan adalah tugas-tugas administratif seperti membuat katalog buku, membut notulen rapat (yep, kita boleh ikut rapat-rapat unit!) mengumpulkan merchandise dari satu kantor untuk digunakan di road show, dll. Ada juga saat-saat dimana saya diminta untuk mendokumentasikan kunjungan mahasiswa dari Malaysia, penutupan proyek SC-DRR, mengikuti road show ke universitas-universitas, menjadi MC di acara kebersamaan karyawan dan berpartisipasi d banyak seminar dan learning session yang menarik🙂

Pembukaan Global Youth Forum oleh UNFPA.

Acara buka bersama staff UNDP dimana saya dan seorang rekan lain jadi MC dadakan

3. Berhubungan dengan media
Salah satu tanggung jawab saya adalah untuk membuat daftar lengkap dan up-to-date semua partner media UNDP. Daftar ini akan digunakan untuk mengundang mereka di konferensi pers, atau merekrut mereka saat kita butuh liputan proyek UNDP dimana-mana. Hubungan lainnya saya lakukan dari membantu mengurus tiket dan akomodasi mereka sampai menugaskan kurir mengirimkan kontrak ke rumah mereka.

Sekumpulan pers di acara serah terima Pengelolaan Dana Kemitraan Indonesia untuk AIDS dari UNDP ke KPAN

Jadi, apa yang didapat setelah melakukan tugas-tugas di atas? Yang paling jelas sih exposure pada lingkungan multikultural. Menyenangkan sekali ngobrol dengan para staf bule atau intern-intern dari negara macam-macam dan mendengarkan pengalaman mereka. Tiap saat pasti kekenyangan di kantor karena adaaa saja yang menghibahkan makanan mereka. Ketahanan kita diuji dengan bertemu berbagai macam kepribadian orang yang mungkin tidak kita temukan di dunia studi. Kreativitas dalam berkomunikasi dan diplomasi tentu meningkat. Pengetahuan akan tebalnya birokrasi dapat menjadi bekal untuk masa depan (ya maksudnya agar dalam setiap usaha kita terus mengejar kesederhanaan, begitu.) Semua dipoles dalam lingkungan kerja yang santai dan tidak terlalu menekan (menurut saya).

Acara makan-makan perpisahan seorang staf yang hendak bertugas di New York.

Walaupun tidak dbayar, saya tidak menyesal mendapatkan kesempatan untuk magang disana.

Karaoke Time!

Permalink 4 Komentar

Pottermore

Mei 7, 2012 at 10:08 pm (Buku, Dan Sebagainya) (, , , )

–and the Philosopher’s Stone

Waktu saya kecil, sampai sekitar kelas 3 SD, novel… merupakan bacaan menyebalkan yang bikin malas, soalnya saya lihat itu cuma buku tebal penuh kata-kata tanpa gambar. Semuanya berubah setelah saya dipinjami Harry Potter sama teman gereja. Kakak saya yang duluan melahap seisi bukunya tapi setelah itu ya tergeletak begitu saja. Sampai suatu Minggu siang saya beranikan diri membuka covernya, memahami halaman per halaman penuh kata itu, lalu saya jatuh cinta sampai 10 tahun kemudian😀

Gateway setelah sign up.

Pottermore merupakan proyek online terbaru JK Rowling yang dipersembahkan bagi para fans die-hard Harry Potter untuk menunjukkan detail tersembunyi dan tidak sempat dituturkan lewat buku ataupun filmnya. Dengan desain web interaktif, kita dimimnta berpartisipasi dalam penelusuran chapter demi chapter setiap buku menggunakan metode click and explore. Hampir-hampir seperti game ketelitian malah. Kita bisa membaca rencana-rencana awal Rowling terhadap plot bukunya, back-story tidak terduga dari karakter-karakter yang kita (pikir) sudah kita kenali, sampai asal mula nama-nama dan inspirasi Rowling dalam membuat dunia Harry.

Dulu limited beta testing dibuka pada tanggal 31 Juli 2011 bagi satu juta fans pertama, tapi sekarang sudah terbuka untuk umum tanggal 14 April 2012.

Hal lain yang unik disini adalah:
Diagon Alley! Kita bisa benar-benar belanja disini, hohoho. Dari binatang peliharaan, kuali sampai perlengkapan bagi para First Years di Hogwarts.


Wand! Huooo kita harus melalui semacam tes kepribadian sebelum menemukan tongkat macam apa yang akan ‘memilih’ kita nantinya. Perbedaannya terdapat di panjang tongkat, inti tongkat dan bahan kayu yang digunakan. Lalu, seperti kuis-kuis kepribadian lucu yang biasa kita temui di internet atau majalah, kita bisa melihat apa arti dari panjang, inti dan bahan tongkat kita.


Sorting Hat! Tidak serta-merta kita akan masuk Gryffindor. Kebetulan saja saya masuk Gryffindor. Sekali lagi kita akan disuguhi berbagai macam pertanyaan untuk menentukan asrama mana yang cocok dengan kepribadian kita. Tapi entah kenapa sepertinya sistem Pottermore mengatur untuk menyeimbangkan jumlah siswa di keempat asrama, jadi…


Setelah kita melewati chapter yang menentukan rumah asrama kita, ada beberapa hal lain lagi yang bisa kita mainkan untuk menambah poin bagi asrama kita:
Potion Brewing: Lumayan tricky pada awalnya, dan membutuhkan kedisiplinan yang tinggi (apalagi kalau sudah disuruh menunggu selama beberapa waktu)


Spell Practices: Bisa duel juga sama teman loh, hehe.


Kalau diringkas, Pottermore ini seperti apa ya… website biasa bukan, visual novel bukan, game juga bukan. Rowling mengatakan bahwa web ini akan menjadi rumah permanen online untuk Harry Potter, jadi mungkin ini semacam gudang informasi yang dibuat seunik dan se-kreatif mungkin. Back sound yang membangun suasana di setiap chapter ditambah lukisan dan animasi yang bagus juga sudah sangat oke kok untuk menjadi daya tariknya.

Sampai saat ini baru Harry Potter and the Philosopher Stone saja yang sudah dibuatkan format Pottermorenya. Semoga buku-buku berikutnya cepat datang🙂

Permalink 4 Komentar

Unilever Internship

Mei 6, 2012 at 3:22 am (Keseharian) (, )

Internship = Magang. Sudah lebih dari seminggu sejak saya terakhir kali menyelesaikan masa 3 bulan magang di bagian HRD Unilever🙂 Pengalaman yang berharga.

Beberapa hal menyenangkan yang bisa didapat kalau magang disini:

1. Project-based work. Jadi jarang sekali kita diminta oleh supervisor untuk mengerjakan hal-hal berbau administratif. Pokoknya fokus kita adalah bagaimana bisa menuntaskan proyek kita dan bahkan menambahkan value lebih yang tidak terpikirkan sebelumnya.

2. Activations! Secara Unilever perusahaan yang menaungi berbagai macam brand besar dan tahan banting selama bertahun-tahun menemani masyarakat Indonesia pasti tiap minggu adaaa aja cara setiap brand itu membuat para karyawan aware dengan inovasi mereka. Yang pasti sih selalu ada bagi-bagi produk gratis dan photo booth tempat semua orang bisa narsis-narsisan hahaha. Untungnya anak intern juga bisa ikutan menikmati bahagianya activations itu.

Activation Pepsodent dan Lipton.

3. Exposure. Ada saat-saat dimana isi kantor sering jalan sana jalan sini karena mereka membuat acara external. Atau mungkin ketika mereka kedatangan para teman-teman Unilever global yang juga tertarik bertemu muka dengan para intern. Lumayan lah bisa melihat atau mengalami hal-hal baru dan belajar dari orang-orang lain yang sudah mantap dengan passion mereka. Di sisi lain kita juga bisa belajar soal standar tinggi yang ditetapkan oleh sebuah Multinational Company yang mendunia seperti Unilever. Hal-hal detil mereka perhatikan dengan seksama sehingga efek baiknya men-domino ke segala bagian🙂

Kunjungan ke program CSR Unilever di Pejaten: Bank Sampah dan Trashion

Pesan-pesan keselamatan kerja lewat komik! Hehehe

Magang itu memang penting ya buat anak-anak kuliah yang masih ingusan. Saya termasuk. Apalagi lewat praktek nyata itulah kita bisa meninjau ulang keinginan dan kebutuhan kita untuk masa depan. Meninjau ulang diri sendiri. Saya salut sama orang-orang yang fokusnya tidak pernah belok sepanjang hidupnya. Tapi bukan berarti berpindah fokus adalah hal yang buruk. Yang penting yakin kalau apa yang dikerjakan saat ini adalah benar misi kita; Legenda Pribadi kita – quote Paulo Coelho. Kalau masih belum merasa seperti itu, tetap cari dan coba hal lain. (Klise on.)

Saya merasa beruntung.

Oh iya, bagi yang tertarik magang di Unilever mampir saja ke unilever.co.id/Careers/internship/ Cuma tinggal isi form aplikasi😉 Kalau kalian sukses di program internship ini kalian juga punya kesempatan ikut program Management Trainee Unilever.

Kadang ada Magnum tak terduga…

Dan pokoknya snack dimana-mana

Permalink 16 Komentar

Legend of Korra!

Mei 1, 2012 at 7:33 am (Avatar: The Last Airbender) (, , , , )

Legend of Korra!! AAAAAA!


Memang review ini amat sangat telat karena bahkan sekarang episode 4nya sudah beredar di internet, tapi ya sudahlah. Ini review episode 1-2: Welcome to Republic City dan A Leaf in he Wind.

Ah sudah lamaaa… lamaaa sekali rasanya saya nggak melihat dunia penuh warna dan animasi gerakan akrobatik lincah yang khas sekali buah karya Mike dan Bryan. Rasa nostalgia itu lumayan menusuk bahkan dari frame pertama. Demonstrasi empat elemen, sedikit prolog tentang sejarah yang sudah berlalu dan berlanjut ke inti ceritanya. Bagi seroang fan, walau saya hanya duduk di balik laptop sambil melotot dan mengepalkan tangan, pengalaman ini amat amat sangat menyenangkan!😀

Kisah ini tidak dibuka dengan misteri. Bahkan mereka langsung memaparkan tokoh-tokoh penting di episode pertama. Sebut saja Katara yang sudah menua, Tenzin beserta keluarga, putri Toph, lalu tim Fire Ferrets yang saya yakin akan berperan penting nantinya dalam perjalanan Korra. Korra sendiri saja masuk layar dengan penuh semangat dan ledakan dimana-mana.

Tenzin paling depan, Meelo di kepalanya, kedua anak perempuannya Jinora dan Ikki serta istrinya Pema

Sebenarnya summary Legend of Korra yang katanya hanya beberapa belas episode ini adalah tentang dunia Four Nations setelah generasi Aang berlalu. Karena Fire Nation sudah tidak berkuasa penuh, sekarang dunia hanya memiliki satu ibukota yaitu Republic City dimana bender segala elemen dan non-bender tinggal bersama. Sayangnya masalah baru dimulai ketika muncul gerakan anti-bender yang menginginkan kesetaraan dengan cara menghapus eksistensi para bender. Disinilah entah bagaimana Korra harus bisa bertugas sebagai Avatar yang baru dan mengembalikan ‘balance’ bagi semua pihak.

Di kedua episode pertama, konflik yang disajikan masih belum menggali ke inti masalah di series ini, hanya sekedar menyinggung. Dari masalah pengembangan bending Korra sampai protes-protes anti-bending sebagai permulaan. Atmosfir penuh semangat dan harapan masih sangat terasa di episode-episode awal, hanya sekelibat informasi tentang sang Bad Guy (Amon) di akhir episode saja yang meninggalkan tanda tanya.

Animasi top notch seperti biasa, kualitas martial arts dan bending yang digambarkan oleh Mike dan Bryan memang benar salah satu kebanggan mereka (dan tentunya kebangaan para fans). Dubbing ekspresif, kental dengan karakter. Saya bahkan sedikit melihat Zuko di sini, pecahan Aang di sana, Toph di situ… Budaya Asia yang dipadu-padankan menjadi satu dunia fantasi tersendiri, ditambah percikan norma dan humor Amerika di sana sini juga termasuk keunikan yang mungkin akan disukai orang-orang yang familiar akan kekontrasan budaya tersebut. Memang agak kaget melihat betapa banyak perubahan yang dilakukan seperti bertambah banyaknya machinery, adanya liga Probending, makin ketat dan modernnya tata kota, tapi hal-hal tersebut menunjukkan keinginan Mike dan Bryan untuk menjadikan time lapse yang terjadi di Four Nations se-realistis mungkin.

Probending. Bersama teman baru Korra: Mako dan Boulin

Tapi jangan harap Anda akan menemukan sesuatu yang bloody, gory, mengerikan dan terlalu dalam di series, ini, karena mau bagaimanapun juga ini adalah serial yang diputar di Nickelodeon. Malah menurut saya itu juga salah satu nilai plus dari serial ini  karena membuat saya kembali ke masa kecil lagi tanpa ada kekhawatiran berlebih akan apapun. Dan lewat hal-hal sederhana seperiti Good vs Evil dan Persistence Rocks! yang dipaparkan, kita masih bisa belajar banyak.

Saya tidak kecewa dengan premiere Legend of Korra. Pendahulunya, Legend of Aang benar-benar saya nikmati dan itu cukup untuk membuat saya merasa bahwa apapun yang Mike dan Bryan buat tidak akan mengecewakan. Ternyata benar. Mereka tetap berpegang pada values yang mereka pakai ketika membuat Aang dan itu membuat saya terus menanti kelanjutan Korra.

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Tidak Produktif

Agustus 28, 2011 at 3:43 am (Anime) (, , , , , )

Masih liburan kuliah, wajar kan kalau saya kasih judul entri seperti ini? Memang agak merasa bersalah sih, tapi apa boleh buat. Begitu banyak yang harus dibaca, ditonton, didengar, begitu sedikit waktu. Ada peribahasa yang bilang kalau buku (di kasus ini anggap saja segala jenis medium storytelling) itu seperti teman-teman, sebaiknya sedikit dan dipilih dengan hati-hati. Saya agaknya sudah melanggar peribahasa ini.

Sebagai bahan referensi kalau-kalau di masa depan nanti saya mau menoleh ke belakang dan menertawakan diri sendiri, lebih baik saya mulai mencatat apa yang bisa saya catat.

Mari mulai dengan anime. Setelah sekian lama berkecimpung di dunia nyata dengan dosis animasi Jepang yang minimum (hanya bisa menikmati hasil barteran dengan teman-teman,) alam bawah sadar saya membalas dendam pada jaringan LAN rumah. Ada… 6 anime yang sekarang sedang saya maraton, yang walaupun ditonton pelan-pelan tetap saja beresiko bagi otak, makin membuat kepekaan emosi saya jadi kebal dan menumpulkan syaraf-syaraf kreativitas. Yah, pokoknya, ini dafar acaknya:

1. Ao no Exorcist

Demi bisa nonton anime bareng adik, saya koleksilah serial shounen ini, walaupun awalnya saya pikir saya sudah ‘selesai’ dengan genre shounen klasik. Lumayan sih, sedikit membangkitkan spirit masa muda (ohok ohok) walau banyak fans (termasuk saya) yang protes karena fillernya memakan sebagian besar slot episode yang ada, dan plot inti berjalan begitu lambat. Baru saya tonton sampai #19, mata saya sedang memerhatikan Yukio… menunggu sesuatu yang lebih besar untuk terjadi.

2. No.6

Saya langsung flashback ke novel 1984 dan Brave New World sekaligus manga Marginal. Kecuali, fokus dari No.6 (setidaknya yang versi anime,) lebih kepada hubungan antar karakter. Hal-hal berbau teknis jarang disentuh dan kalaupun iya, eksposisi ditahan ke level yang sedangkal mungkin. Saya juga sedang mengikuti terjemahan rangkuman dari novelnya, dan merasa agak sayang karena aura obsesif-setengah-psycho yang terdapat di novelnya tidak tercerminkan di animenya. Yah, yang penting untunglah noitaminA dan BONES yang pegang, jadi masih layak untuk dikoleksi. Progress baru sampai #8, sedang berharap sisi lain Shion bisa terungkap suatu saat.

3. Natsume Yuujinchou San

Kedua sesason sebelumnya begitu mengena, nggak heran saya menantikan yang ketiga. Masih episodik dan menyinggung kehidupan manusia-slash-youkai, tetap dibawakan dengan manis dan seringkali berakhir dengan helaan nafas, saya senang sekali popularitas serial ini begitu tinggi sampai season tiganya dibuat. Progress di #8 (HorribleSubs bilangnya #34,) dan saya agak menantikan penuntasan masalah dengan Matoba, walau saya tahu nggak boleh berharap terlalu banyak…

4. Mawaru Penguindrum

Rekomendasi kakak. Ternyata sangat menyenangkan untuk ditonton. Episode awal memberikan janji kegilaan; scene-scene serampangan penuh warna dengan plot yang mungkin bisa naik turun sesuai ilham pagi Ikuhara, tapi ternyata susunan ceritanya cukup erat dan solid. Dengan penguin-penguin berkeliaran dan simbolisme-simbolisme yang nggak tahan entah harus diketawain atau ditangisi, anime ini merupakan salah satu yang paling saya tunggu perkembangannya. Progress agak telat, baru #6. Keep Shouma off of Ringo.

5. Ghost Hound

Ini hasil browisng daftar anime orang lain, anime tua, produksi 2007. Saya baru tahu ternyata ini proyek 20 tahunnya Production IG (GYAAGYAAPURODAKUSHIONAIJI) jadi tak bisa tak bisa tak bisa dilewatkan. Progress masih sangat bontot, baru #4 tapi saya sudah jatuh cinta. Ironi chara design loli dengan tema psikologis ditambah melintasnya hantu-hantu dan tubuh astral mirip Casper dengan otak dan jeroan warna warni benar-benar top. Jujurnya sih saya masih belum tahu kemana arah anime ini akan jalan, tapi menonton tiap episodenya malam-malam sendirian dengan earphone selalu memberi kepuasan tersendri.

6. Tiger & Bunny

Rekomendasi teman. Episode pertamanya sangat catchy, dimana pesan bahwa kapitalisme telah memakan segala sudut kehidupan manusia modern berkeliaran. Para pembela kebenaran jadi bahan promosi dan marketing, keselamatan jadi komoditas drama dan rating. Menarik. Ditambah lagi salah satu tokoh utamanya adalah seorang papa yang berputri. Dengan lapisan CG yang jadi kontroversi fandom, cerita sesungguhnya sebenarnya sangat mengangkat hati karena mereka menebar alur yang perkiraan endingnya optimistis serta simpel. Progress terlambat, masih di #12.

Oke, kesimpulannya: saat ini saya memang sangat TIDAK PRODUKTIF. Mari tutup dengan sesuatu yang memberikan harapan: bahwa suatu saat saya akan kembali produktif. Mungkin pas masuk kuliah…

Permalink 3 Komentar

Alive – The Final Evolution

Januari 4, 2011 at 6:40 am (Buku) (, , , , )

Saya nggak pernah menulis review (baca: curhatan kopong) tentang manga sebelumnya yaa… Kalau begitu ini yang pertama. Memang baru sempat ketemu motivasinya sekarang sih.

Kali ini judulnya Alive – The Final Evolution

Kira-Kira Semua Tokoh Pentingnya Ada Disini

Salah Satu Cover yang Paling Saya Suka

Awalnya akan tekesan seperti manga shonen yang biasa; tentang tiga orang sahabat, karena kedatangan sebuah entitas supranatural yang satu jadi antagonis utama dan yang satu jadi protagonis utama. Si karakter ketiga – sang gadis – akan jadi Yang Diperebutkan, diculik dan berusaha diselamatkan. Begitulah.

Ooo, betapa kita harus melihat sedikit lebih jauh dan dalam. Banyak hal yang (bagi pembaca manga yang agak seniordanberumursepertisaya) jarang atau tidak pernah kita temukan dalam seri manga shonen lainnya yang sama-sama bertemakan action. Karakter utama yang tidak bodoh dan bertarung hanya demi alasan bertarung, nilai-nilai filosofis yang tidak terkesan terlalu emo dan self-centered yang biasanya populer di kalangan remaja ababil, cerita yang kuat, alur yang terencana… Malah semakin mengikuti alur, saya semakin menikmati unsur drama didalamnya dibanding fightingnya. Satu hal yang perlu saya sampaikan, di manga ini karakter utamanya adalah Kanou Taisuke, tetapi begitu banyak karakter lainnya yang memiliki ciri khas spesial dan unik sehingga sekali mengenal mereka akan sulit untuk melupakannya, dan dengan artwork sedetail itu sangat mudah membedakan satu dengan yang lain.

Kedua pihak pembuat, si penulis dan ilustrator, juga seperti menemukan chemistry sendiri dalam membuat Alive. Aliran panel terasa begitu cocok dengan dialog yang ada, dan mungkin karena kedua ilustratornya adalah wanita, manga ini trasa lebih ‘indah’ dari manga-manga ‘untuk cowok’ lainnya. Tapi justru ini hal yang sangat bagus, secara berkali-kali saya ter’waaaw’ dengan epiknya artwork mereka dan betapa tepatnya mereka menggambarkan latar belakang dari padang berumput sampai kota hancur bergelimpangan mayat yang mengingatkan saya dengan gempa di Haiti, sampai barang-barang dari sepatu kotor hingga tank-tank militer. Secara visual, manga ini ada di atas sana.

Soal plot pun tidak masalah, sanagt enak untuk diikuti. Dibawakan dengan rentang waktu dan kesan nyata didalamnya (aduh saya memang suka dengan cerita-cerita fantasi yang dibuat realistis hoho,) mampu membawa emosi pembaca dan ingatan akan hal-hal yang mungkin terpikirkan oleh kita, dari masa kecil kita, hubungan antar-manusia yang kita jalani, mimpi-mimpi kita, ataupun keadaan sekitar kita yang biasa menjadi rutinitas. Tidak heran setelah kesal menunggu chapter yang nggak kunjung muncul di internet, saya selalu teringat untuk kembali mengecek dan mengecek, merasa wajib untuk menyaksikan akhir kisahnya. Hmm memang itulah kekuatan manga bagus ya, bisa membisikkan peringatan di telinga seseorang. Tapi… memang, saya nggak terlalu diyakinkan oleh konsep villain dari luar angkasa yang ingin membawa manusia pada evolusi terakhirnya melalui kematian, dan saya juga nggak suka cara mereka mengembangankan karakter Hirose yang jadinya stereotipikal sekali, tapi yah… semua simpul diikat dengan rapi di halaman terakhir.

Kesimpulannya ini salah satu manga shonen remaja terpenting yang pernah saya baca, saya menyukainya. Sip.

P. S: Ngomong-ngomong habis baca kata-kata terakhir scanlatornya, tentang sang penulis yang berusaha menyelesaikan cerita ini di tempat pembaringannya yang terakhir, saya jadi terharu sendiri.

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Seirei no Moribito – Guardian of the Sacred Spirit

Oktober 23, 2010 at 7:16 am (Anime) (, , , , )

Nahji, koikoi. Nahji, koikoi….*

🙂

Saya kira saya nggak bakal bisa disentuh lagi sama anime. Syukurlah saya benar…

…benar SALAH.

Entah apa yang mencegah saya menonton anime ini pada saat lagi diproduksi (2007), tapi saya bersyukur kesempatannya datang sekarang, dimana saya sudah lelah dengan segala tipikal cerita anime yang saking dramatisnya makin nggak realistis, dengan karakter yang sifatnya itu-itu saja, dengan fanservice yang ditebar bikin capek, animasi gawat yang bikin frustasi…. aaah…

Dan Seirei no Moribito adalah kebalikan dari semuanya itu. Saya bersyukur sekali masih bisa menonton anime seperti ini, serasa menonton karya Miyazaki yang diperpanjang jadi 12 jam, dan hal itu sangat menyenangkan. Animasinya luar biasa, detail pemandangannya, pergerakan tiap karakter, pergerakan benda-benda, pergerakan alam… Luar biasa. Kualitas sebuah movie, dan sama sekali tidak menurun selama 26 episode. Musik yang indah dan sangat cocok dengan tiap scene yang ada, adegan pertarungan yang dipuji oleh semua pihak (terlebih lagi adegan tersebut jarang ada, hanya kalau perlu saja, begitu realistis,) pengembangan karakter yang mendalam, dan cerita yang mampu mencengkram perhatian (ini salah satu anime yang bisa membuat kita menjadi manusia yang lebih baik setelah menontonnya, serius. Haha.) Apa lagi?

Pertama kali melihat ulasannya di Animonster 3 tahun lalu, saya punya banyak harapan terhadap anime ini. Dan waktu pun berjalan, saya melupakannya untuk beberapa waktu, lalu ketika saya sedang iseng mengingat-ingat judul anime yang sepertinya potensial untuk ditonton, Seirei no Moribito muncul. Saya download semua episodenya dan menontonnya, kadang pelan-pelan, 1-2 episode per hari, kadang maraton kayak hikikomori nggak ada kerjaan. Lalu hari ini, hari dimana saya harusnya melakukan persiapan final untuk ikut IndonesiaMUN, saya menyelesaikan sebagian akhir episodenya. Betapa melegakan. Sedih, menyenangkan, menginspirasi, memuaskan.

Sebenarnya jalan ceritanya itu tentang seorang wanita berusia 30 tahun, Balsa, yang berprofesi menjadi bodyguard, bersenjatakan tombak, dan sedang dalam perjalanan memenuhi misinya untuk menyelamatkan 8 orang nyawa manusia sebagai ganti nyawa 8 orang sahabat yang sudah ‘dia’ bunuh di masa lalu. Dan datanglah kesempatan untuk menyelamatkan nyawa kedelapan, nyawa seorang Pangeran (Pangeran Kedua,) Chagum, yang terancam karena ayahnya sendiri, sang Kaisar, ingin membunuhnya. Alasannya adalah sang Pangeran kecil ini ditafsirkan sedang membawa sebuah telur roh setan air dalam dirinya, yang ketika menetas, akan membawa kekeringan panjang bagi seantero kerajaan. Permaisuri Kedua, ibu Chagum, akhirnya memutuskan untuk menyewa Balsa untuk menjaga anaknya seumur hidupnya. Balsa pun setuju.

Saya nggak bisa lanjut sama ceritanya, soalnya dia punya banyak twist di tengah series yang kalau dijelaskan bakal memakan 2 kali panjang review saya terhadap Ender’s Game. Satu hal yang mau saya tekankan adalah orang yang bisa menerima Moribito dengan sepenuh hati sepertinya hanya pecinta anime dewasa yang sudah lewat masa-masa ‘Naruto’ dan ‘Bleach’-nya. Yang ingin mengerti apa arti ‘cerita’ itu sesungguhnya dan sudah punya sedikit pengalaman untuk meletakkan hal-hal pemuas indra seperti fanservice berbau seks, eye-candy, dan drama gila-gilaan di posisi yang lebih rendah daripada kebijaksanaan. Tapi mereka yang tidak termasuk golongan ini pun bahkan bisa memuaskan diri dengan segala detil yang ada. Sepertinya…

Betapa realistisnya Seirei no Moribito walaupun memiliki unsur fantasi juga merupakan satu hal yang patut diacungi jempol. Hubungan antar karakter, cara masing-masing individu berusaha bereaksi terhadap semua hal… (saya masih belum lupa bagaimana Shuga menahan diri memberikan informasi terhadap Pangeran Sagum, tidak menyadari bahwa itulah saat-saat terakhir hidupnya,) dan pertumbuhan personal (Chagum itu karakter yang luar biasa (: ) dapat saya rasakan terjadi pada siapa saja di dunia nyata ini. Walaupun beberapa orang memprotes bahwa tidak ada karakter yang benar-benar dari sononya jahat, sepertinya semua karakter berniat baik, tapi ya sudahlah. Intrik politik yang ada sudah cukup memancing pikiran saya. Bahkan anime ini sendiri sebenarnya diangkat dari buku yang ditujukan kepada anak-anak. Production I.G. memang keren, haha.

Pokoknya ini salah satu anime terbaik yang pernah saya tonton. Huff.

Sekarang lanjut IMUN, berharap saya mendapat kekuatan ekstra.

*Nahji = Nama burung yang seharusnya mengantar telur roh air dalam tubuh Chagum ke laut untuk memberikan berkatnya kepada kerajaan.

*koikoi = Come, come. Kemari, kemari.

Permalink 4 Komentar

I Must be Mad

Oktober 18, 2010 at 10:07 am (Dan Sebagainya, Keseharian)

*Cuma curhat*

Pertama, IMUN udah mau mulai. Sabtu ini berangkat. Saya takut. Kurang research, sendirian jadi delegate PU, ngga ada temen, ekspektasi gede.

 

Kedua, ngurusin drama mulai kerasa nerakanya. Kesalahan disini disitu bikin mumet. Salah saya sendiri juga sih terlalu memberatkan diri sendiri. Maap temen2, mestinya dari awal udah bagi tugas yang ukurannya reasonable.

Ketiga, tugas kuliah manggil-manggil. Clash of Civilization paper, 5-6 halaman. Entrepreneurship belum dibikin weekly individual reportnya. Leadership mulai kuis-kuis. STS…. yah… dengan A.S. Hikam sebagai dosen, begitulah.

Padahal saya pikir ngedrop Intro to Communication, ngga lanjut choir dan dimanja oleh kemalasan dosen Indonesian Economic System dalam urusan datang ke kelas udah cukup membantu. Ternyata…

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Into the Woods!

Oktober 17, 2010 at 10:33 am (Dan Sebagainya, Keseharian)

 

Poster Into the Woods yang masih ketinggalan beberapa karakter

 

Iya.

Masih kurang Rapunzel, Cinderella’s Spetmother, Narrator dst dst. Lucu juga kenapa kita ngga bikin fixed list dulu sebelum mempublikasikan poster ini x_x

Tapi yasudahlah.

Jadi alasan awal kenapa bisa ada drama begini di universitas saya adalah (1) Keburu mengumbar janji di PACT (English clubnya President University) buat bikin drama, (2) Emang ngebet dari sananya. Untungnya alasan yang lebih dominan sih yang no.2, walopun kalo ngga ada no.1 ya ngga bisa merasa terikat juga sama proyek ini. Lagipula saya gemes juga sama universitas saya yang udah berdiri selama 8 tahun tapi ngga pernah punya event external yang gegap-gempita dan bisa dinikmati masyarakat luas. Semua acara internaaaaaal melulu, yah, kecuali beberapa yang memang hubungannya keluar seperti Charity (klub amal) ato Green Planet Supporter (pecinta alam).

Makanya saya berkesimpulan untuk jadi agak masokis dan mengambil inisiatif untuk mengorganisir satu drama besar. Rencananya sih mau dipentaskan di Jakarta entah Maret/April, dan dibuat komersil jadi proyeknya harus total. Harus ada sponsor, komitmen, energi, orang, komitmen, talenta yang komitmen, niat, ketahanan dan komitmen lagi. Terlebih saya ini total amatiran, cuma pengalaman ikut drama-drama mungil gereja dan sekolah yang dipentaskan sendiri, diketawain sendiri juga. Guru Inggris saya, Mr. Marc, udah setuju untuk jadi advisor buat proyek ini, tapi ya itu dia, jadi advisor tok. Ngga mau lebih jauh lagi. Gaswat ya -_-

Ngomong-ngomong drama Into the Woods sendiri diambil dari musikal karya asli Stephen Sondheim (komposernya) dan James Lapine (pembuat bukunya) yang dipopulerkan lewat Broadway. Ceritanya gabungan dari berbagai macam dongeng karangan Brothers Grimm seperti Cinderella, Jack and the Beanstalk, Rapunzel, dan satu kisah orisinil yang bertokohkan Baker and His Wife. Dan bukan cuma memiliki pesan moral yang dalam dan cocok bagi orang dewasa, lagu-lagu drama ini juga meskipun klasik dan termasuk sulit untuk dipelajari, benar-benar indah. Menyenangkan sekali. Kalau kami bisa membawakan drama ini dengan kualitas yang mendekati versi aslinya entah seberapa bahagia saya bisa jadi nanti.

Yah pokoknya besok audisi gelombang pertama. Entah bagaimana nanti jadinya. Apalagi mungkin bakal ada peserta yang punya pengalaman lebih dalam drama-drama seperti ini. Diaudisi oleh amatiran jadi terasa lucu. Tapi apa boleh buat, walaupun mereka punya pengalaman, mereka bukan inisiatornya. Saya yang stuck mendapat posisi pengarah.

Permalink 4 Komentar

Facebook Page dan Lain-Lain (:p)

Oktober 3, 2010 at 9:04 am (Animorphs, Keseharian) (, , )

Jadi sekalian promosiin link yang udah dibikin sama Yunita, yang komen di pos pertama saya di blog ini…..

Jeng jeng jeng jeeeng….

Animorphs Indonesia Facebooookkk!!!

v

v

http://www.facebook.com/group.php?gid=161252167224294&ref=search

(iya kan bener yang ini..?)

Hahaha makasih ya ampe dibikinin segala, join aja kalo mau. Sekarang lagi bergulat di tempat kuliah bikin drama sama siap-siap acara Indonesia Model United Nations di UI. Merfans juga cepet2 selesaiin #32nya yaaa, biar bisa cepet-cepet di proof-read.

Permalink 6 Komentar

Next page »