Ender’s Game

Agustus 17, 2010 at 11:01 pm (Buku)

Apalah artinya saya review buku ini? Demi melancarkan sistem tubuh saya saja rasanya. Daripada saya teriak-teriak kayak orang gila, lebih baik saya menulis nggak tentu arah.

Ender's Game cover 1985

Ender's Game cover

Ender's Game E-book Cover by Sam Weber

Ender's Game E-book Cover

Iya, iya saya tau ini buku tua, terbitnya saja 1985. Dan saya bahkan nggak yakin orang Indonesia familiar sama buku yang menurut saya sangat menangkap hati ini. Memang versi bahasa Indonesianya setahu saya tidak pernah diterbitkan.

Saya sendiri pertama mendengar soal buku ini saat sedang berlalu-lalang di thread ‘Recommended Books’ di salah satu forum yang anggota-anggotanya sangat saya hormati. Banyak sekali yang menyodorkan buku ini sebagai daftar teratas buku favorit mereka. Dan setelah PENCARIAN KERAS (yah, nggak keras-keras amat sih kalau tahu caranya 😉 haha) saya akhirnya bisa menemukan buku ini dalam versi yang lebih ‘overseas-people-friendly’ tebak saja deh versi apa itu.

Tokoh utama buku ini, Andrew Wiggin (selalu disebut Ender), anak ketiga bersaudara Peter Wiggin (tertua) dan Valentine Wiggin, akhirnya diajak oleh Kolonel Graff dari International Fleet, pasukan militer saat itu, untuk berlatih di Battle School luar angkasa dan menjadi calon terkuat Battle Commander manusia untuk menumpas para Bugger, alien yang dianggap akan menghancurkan umat manusia. Dunia sudah jauh di masa depan dimana pesawat tempur antariksa sudah dibutuhkan, komunikasi tanpa batas ruang dan waktu sudah tercipta (lewat alat yang disebut ansible,) dan pemerintahan dunia terbagi tiga: Strategos, Polemarch dan Hegemon. Para Bugger sudah menginvasi dunia dua kali, dan manusia mewanti-wanti invasi ketiga. Tujuan utama yang dibuat bagi Ender adalah agar ia dapat memimpin pasukan manusia mendatangi planet rumah para Bugger dan menyerang mereka di sana.

Nah.

Dalam inti cerita yang kalau saya ringkaskan terkesan simpel dan monoton ini, ada begitu banyak hal yang saya pelajari. Banyak sekali adegan yang tak disangka-sangka bisa meremas hati saya begitu keras padahal saya kira saya sudah membaca cukup banyak buku dan menonton cukup banyak film untuk menerka-nerka apa yang akan terjadi dan tidak terlalu sakit hati akan hal tersebut. Tapi novel ini, novel tua yang dibuat 25 tahun yang lalu ini, mengejutkan saya dengan caranya yang, yah… mengejutkan dan meninggalkan sebuah rasa yang aneh setelah saya membaca kalimat terakhir di buku ini.

Saya yakin sekali kalimat saya tidak akan bisa dimengerti kalau kalian belum baca bukunya sendiri, maaf.

Saya akan mencoba sebaik mungkin untuk menggambarkan pengalaman saya ini kalau begitu. Orson Scott Card, pengarang Ender’s Game, memulai ceritanya dengan mempersembahkan sebuah karakter sempurna. Ender. Seorang jenius, berhati lembut, muda dan dibutuhkan manusia. Kakaknya, Peter, adalah sociopath, kesenangannya adalah menyiksa Ender dan Valentine, berulang kali mengancam akan membunuh mereka, dan sama jeniusnya dengan Ender. Kakak keduanya Valentine, adalah gadis yang terlalu baik hati, memiliki keahlian di bidang persuasi dan tulisan, tentu sama jeniusnya dengan Ender. International Fleet dulu mengira mereka bisa menggunakan Peter sebagai calon Battle Commander terbaik mereka, sebelum Valentine dan Ender lahir. Peter terlalu kejam, lalu mereka menyuruh kedua orangtua Peter untuk melahirkan Valentine, siapa tahu dia lebih cocok. Valentine terlalu lembut, dan mereka lalu menyuruh kedua orangtua Valentine untuk melahirkan anak KETIGA (di masa ini populasi membludak dan memiliki lebih dari dua anak merupakan sebuah hinaan dan beban,) siapa tahu dia lebih cocok.

Ender memang cocok. Inti yang diajarkan di Battle School terletak pada Game-Game mereka, dimana Ender harus bergabung (dan lalu) memimpin sebuah army untuk melawan siswa lain di ruang tak bergravitasi dengan senjata yang dapat membekukan tubuh mereka secara temporer. Dia dilatih terlalu keras di Battle School, selalu dinaikkan pangkatnya lebih awal dari seharusnya, ditekan oleh para gurunya lewat cara-cara yang begitu tersembunyi sehingga Ender selalu ada di ujung batasnya, diisolasi, ditempa dan dibentuk. Ender selalu bertahan menjadi yang terbaik. Sering dengan cara yang menyakitkan. Selalu sasarannya adalah agar Ender dapat mengeluarkan seluruh potensinya. Untuk mencari kunci yang dapat menghapuskan Bugger untuk selama-lamanya. Banyak hal yang saya sulit bayangkan dilakukan pada Ender di buku ini. Bukan hal-hal mengerikan secara fisik, tapi sesuatu yang lebih mendalam, yang dapat membuat seseorang lupa siapa dirinya dan akan jadi apa dia tanpa rasa sakit, membuat memori yang statis dan cintanya kepada Valentine sebagai satu-satunya tempat dia bisa melarikan diri, dan bahkan hal itu pun dgunakan untuk melukai Ender lebih total lagi.

Di saat Ender sedang berada di luar angkasa, Peter ternyata ditulis bukan hanya sebagai sociopath tapi sebagai megalomaniac. Dia mengaku pada Valentine bahwa dia dapat memimpin dunia untuk membuatnya menjadi tempat yang lebih baik, karena dia sadar akan keadaan ketiga pemimpin dunia yang labil dan dapat berperang kapan saja setelah para Bugger teratasi dan dunia internasional tidak tahan lagi bersatu. Tapi dia membutuhkan tenaga Valentine untuk itu. Mereka mulai mengumpulkan kekuatan politik dengan cara-cara yang hanya bisa digunakan lewat internet, yaitu opini. Jangan lupa mereka memiliki otak yang superior. Mereka menulis esai-esai politik dan komentar terhadap situasi sosial, dengan Valentine mengambil nickname Demosthenes dan Peter menggunakan Locke, dua karakter yang pola pikirnya sangat bertentangan dengan sifat asli Peter dan Valentine.

Saran saya upakan hal-hal humanis ketika memposisikan diri membaca novel ini. Atau, keluarkan semua nilai-nilai moral yang Anda punya untuk membandingkan aspek-aspek yang ditulis dengan apa yang Anda pikir seharusnya terjadi. Gaya bahasa Orson Scott Card yang begitu langsung kepada tempanya dan sering dikritik oleh banyak orang, sejujurnya, begitu saya nikmati. Bisa jadi karena saya sedang muak dengan novel-novel yang berjuang keras mengharumkan buku mereka dengan kata-kata yang indah dan ambigu tapi ber-plot begitu tumpul, atau bisa jadi karena imajinasi kita dituntut lebih keras untuk membayangkan emosi yang ada, hal-hal yang tak terkatakan, dan asumsi logis akan yang sedang terjadi. Entah mengapa (saya sudah tahu banyak orang yang tidak sejutu) saya merasa penulisan Card begitu cocok dengan atmosfir buku ini. Seperti megafon yang berteriak:

INILAH YANG TERJADI. INI KONSEKUENSINYA. KALAU TIDAK BEGINI YA BEGITU. TAK ADA PILIHAN LAIN. ADA PILIHAN DAN SAYA MEMILIHNYA. KALAU IYA ADALAH IYA, TIDAK ADALAH TIDAK.

Manis sekali. Terlebih kita tahu di negara tempat saya tinggal ini begitu banyak omong kosong sehingga kebenaran terasa lebih manis daripada yang seharusnya.

Lanjut. Karena kemungkinan besar pembaca tulisan ini tidak akan membaca bukunya, saya akan bicara soal ending ceritanya. Jadi, Ender berhasil. Setelah diluluskan prematur dari Battle School dan dibawa ke Command School (sekolah bagi para calon Battle Commander,) dia ditipu untuk menghancurkan planet rumah para Bugger dimana tutornya mengatakan itu semua cuma Game. Permainan. Padahal itu tidak. Teman-temannya yang ia pimpin lewat ‘Game’ itu ternyata benar-benar mengadu pesawat di suatu tempat di galaksi nun jauh di sana. Setelah semuanya selesai barulah Ender sadar bahwa dia sudah mengorbankan begitu banyak pilot pesawat di taktik-taktik game yang dia buat, membunuh jutaan alien yang berpikiran dan berperasaan, menghapus total satu ras dari galaksi. Dalam sakit hatinya dia tertidur dan bangun dan menunggu. Bumi akhirnya jatuh dalam perang seperti yang Peter ramalkan, setelah ancaman Bugger lenyap. Nama Ender Wiggin melegenda di Bumi tapi dia tak bisa pulang, keterampilannya akan terus dicoba digunakan oleh salah semua pihak untuk menguntungkan mereka. Jadi Valentine menghampiri Ender di luar angkasa, membujuknya untuk pergi bersama koloni Bumi untuk menempati mantan rumah para Bugger. Ender setuju. Dan di situlah ia menemukan sebuah tempat yang betul-betul mirip dengan mimpi-mimpinya, menemukan bagaimana para Bugger berusaha terus berkomunikasi dengannya lewat mimpinya untuk berkata bahwa Bugger memaafkan manusia juga meminta manusia memaafkan mereka, dan menemukan satu telur Ratu para Bugger yang dapat menjadi harapan untuk repopulasi para Bugger.

Maka Ender dan Valentine pun berpergian dari plante ke planet untuk mencari tempat bagi Ratu Bugger tersebut untuk terbangun dari pupanya.

Akhir dari buku.

Begitulah. Masih ada rentetan lanjutan dari cerita ini yang harus saya baca, jadi apa boleh buat saya harus stop disini. Tapi seenggaknya saya mengerti kenapa teman-teman forum saya begitu menyukai buku ini. Bukan tipe buku yang bisa digemari seperti Twilight (saya nggak suka Twilight series,) tapi lebih seperti sesuatu yang dibawa ke hati dan menempel di sana. Kata-kata yang begitu nyata dan sederhana, alur cerita yang sama sekali tidak berusaha membuat kita ngeri atau tegang atau sedih, tetapi kitanya sendiri yang bereaksi terhadapnya, sebuah pengalaman yang sangat berbeda.

Saya suka sekali.

Dan saya bersyukur saya masih punya sisa kewarasan untuk menulis komentar sepanjang ini. Sekali lagi buku ini ditulis tahun 1985, Perang Dingin belum berakhir, dan saya sayangnya tidak punya kesempatan membaca versi revisi tahun 1991 yang situasi politiknya sudah berubah. Tapi tak apa.Tak mengurangi pujian bagi buku ini yang mampu menarik saya begitu jauh dari apa yang biasa saya baca sehari-hari.

*Menghela napas*

Oh iya, Di chapter pertama, Ender berusia 6 tahun, Valentine 8 dan Peter 10. Ender berhasil menghancurkan Bugger pada umur hampir 12 tahun. Dia pergi menemukan tempat bagi Ratu Bugger yang baru pada umur 23 tahun. Baca saja bukunya kalau mau benar-benar mengerti kenapa hal itu bisa terjadi 🙂 Saya dengan senang hati akan memberikan satu kopi pada yang meminta.

Iklan

23 Komentar

  1. satrio said,

    minta donk pake format pdf boleh donk ,please

  2. redprint said,

    Ok, udah diupload, tapi formatnya docx, ngga sempet format ke pdf.. 🙂 Download aja di bagian kanan yo

  3. mujib said,

    link downloadnya nggak bisa lagi… bisa dibisain nggak?

  4. chindest said,

    Aku minta dongg

  5. Agung Eka Budiono said,

    penasaran banget bs minta copynya ?tks

  6. Ilham Rizkanda said,

    minta copynya dong plis 😥

  7. sofimega said,

    minta dong

  8. Alvi Rizka Aldyza (@alvidyza) said,

    mau dong bukunya

  9. meilia kusuma melati (@meilia_km) said,

    mau bgt bukunya, minta dong

  10. Lucy Pratama said,

    min, bole minta pdf nya gag?
    yg bahasa Indonesianya ya 😀
    kirimnya ke ch.pratamazubir@gmail.com
    (wahhhhh saya pD banget ya ngasih alamay e-mail, padahal belim tentu dikasih pun)

  11. alya said,

    Boleh minta juga novel ender’s gamenyabhs indonesia,klo boleh tlong krim ke email ini ya alya.ipa4@gmail.com mkasih

  12. alya said,

    Aku boleh minta jga gak ender’s game bhsa indonesianya? Klo boleh tolng krim ke email aku ya alya.ipa4@gmail.com mkasih

  13. feri khornianti said,

    Aku boleh minta novel ender’s game versi indonesianya? Kalau boleh tolong di kirim ke e-mailku feri_josullivan@yahoo.co.id
    Soalnya pnasaran bgt sama novelnya. Terimakasih.

  14. Rizza said,

    link nya tidak bisa ya? trims

  15. sandra said,

    linknya kenapa tdk bisa yamin?:( tlg dong..

  16. Rizal Abdullah Al Haq said,

    Saya mau donk min novelnya, tapi yg bahasa indonesia ya..
    Email saya rizalabdullahalhaq@gmail.com
    Thanks min

  17. Novisya Salma said,

    Saya penasaran…. boleh minta novel versi bhasa indonesianya… tolong kirim ke novisya_salma@yahoo.com. makasih

  18. asa said,

    mau dong min novelnya, tapi yg bahasa indonesia….
    tolong kirim ke asalehudi@yahoo.com

  19. Zaldi said,

    Gan, minta nobvelnya juga ya… nih e-mail saya: rizaldibagus31@gmail.com
    Tolong ya gan

  20. Anisaa said,

    Saya penasaran dengan novel ini…
    bisakah saya mendapatkan novelnya dengan versi Bahasa Indonesia?
    e-mail saya : aanisa290@gmail.com

  21. Hanan said,

    boleh minta novel enders gamenya gan ? kalo boleh kirimin ke arhanan96@gmail.com hehe
    terimakasih sebelumnya gan

  22. Ami Armstrong said,

    Kirim mi saya senpai pls, saya mohon =D terima kasih banyak

  23. Laili said,

    Saya mau

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: