Shadow Quartet

September 7, 2010 at 9:35 am (Buku) (, , , , , , , )

Yeeppp. Lagi-lagi nggak tahan buat nggak ngoceh setelah baca buku. Ayo kita mulai dengan Shadow Quartet dulu. Lanjutan Ender’s Game yang berfokus pada teman-teman Ender.

Oke. Pertama Ender’s Shadow, semacam parallel novel yang settingnya persis sama dengan Ender’s Game cuma dilihat dari perspektif Bean. Siapa Bean itu? Seorang anak bertubuh sangat kecil yang lahir dari percobaan genetik yang memungkinkan dia menjadi orang terpintar di Bumi dengan ongkos umur pendek akibat dia akan terus bertumbuh menjadi raksasa karena otaknya juga tak berhenti bertumbuh. Disini diceritakan jalan hidup Bean sejak dia kecil, kesusahannya jadi anak jalanan di Rotterdam setelah lari dari laboratorium tempat ia dibuahi secara in-vitro dan dirawat semasa bayi, pertemuannya dengan Achilles, Poke dan Suster Carlotta, dan ke Battle School. Disanalah dia bertemu dengan Ender dan di-klaim menjadi backup atau plan B seandainya Ender gagal menyelamatkan para manusia dari Bugger. Dan di buku ini pula kita diperkenalkan dengan istilah Ender’s Jeesh (jeesh adalah bahasa Arabnya laskar,) yang berarti¬† anak-anak yang ikut bergabung membantu Ender di pertarungan terakhir mereka di Command School yang berakibat musnahnya ras Bugger.

Buku ini juga cukup luar biasa walaupun untuk saya Ender’s Game masih nomor satu. Card menggambarkan karakteristik Bean si jenius dengan sangat meyakinkan, meletakkan posisinya sebagai pembuat strategi yang sebenarnya lebih baik daripada Ender. Bean bisa menganalisis suatu kasus dari data yang begitu sedikit, mengetahui tujuan sebuah aksi dan menebak berbagai hal yang Ender sendiri tidak pernah tahu hanya atas dasar logika. Tapi biarpun Bean jauh lebih pintar daripada Ender, Card juga berhasil menyampaikan pesan bahwa Ender lebih superior dalam kepemimpinan dan pemahaman watak manusia dimana hal itulah yang dibutuhkan oleh seorang Battle Commander. Fokus Bean saat itu adalah bertahan hidup, dibayangi trauma masa kecilnya yang begitu menyedihkan di jalanan Rotterdam sehingga ia tidak sehangat Ender, tidak bisa membuat orang menyukai dirinya seperti Ender, membuat semua temannya begitu loyal dan berani mati demi dirinya. Ending buku ini lebih happy daripada Ender’s Game karena Bean akirnya menemukan orangtua aslinya di Bumi dan saudara kandungnya di Battle School.

Lanjut ke ketiga buku Shadow selanjutnya. Shadow of the Hegemon, Shadow Puppets dan Shadow of the Giant adalah kumpulan drama politik dengan setting yang dibuat sekaya mungkin, penuh dengan referensi sejarah dan taktitk militer. Atmosfirnya jauuuh sekali beda dengan kedua buku sebelumnya. Inti cerita sekarang adalah kisah hidup para anggota Ender’s Jeesh dan lulusan Battle School lain di Bumi setelah para Bugger tiada. Karena Ender tidak diperbolehkan pulang ke Bumi, merekalah tokoh-tokoh kunci yang berperan penting membentuk sistem pemerintahan dan memainkan perang-perang besar di Bumi. Karakter yang paling dikembangkan disini adalah tentu Bean (yang akhirnya diketahui bernama asli Julian Delphiki,) Petra Arkanian, salah satu anggota Ender’s Jeesh, Achilles si tokoh jahat dari masa kecil Bean, Peter Wiggin kakak Ender yang berupaya menyatukan dunia, orangtua Ender John Paul dan Theresa Wiggin, Han Tzu dan Alai, anggota Ender’s Jeesh juga, serta beberapa karakter lain seperti Virlomi (India) dan Suriyawong (Thailand), lulusan Battle School.

Jujur, dibandingkan dengan Ender’s Game dan Ender’s Shadow dimana setting ceritanya masih di sekitar luar angkasa, saya malah makin sulit mencerna ketiga buku terakhir ini. Padahal saya anak Hubungan Internasional, yang harusnya makan drama politik tiap hari. Card memang terbukti ahli dalam bidangnya, dia mengerti sekali tabiat para pemimpin besar di masa lalu, tahu arah sejarah kontemporer, dan berani mengaplikasikannya ke dalam sebuah tatanan dunia yang ia ciptakan sendiri. Mendengar kalimat-kalimat seperti ‘India memiliki populasi terbesar di dunia,’ ‘Amerika menarik diri dari pergolakan militer dunia karena tidak pernah melihat aksinya membuahkan sesuatu selain cercaan dan sakit hati,’ ‘Eropa adalah kumpulan negara tua yang lelah dan ketinggalan jaman,’ merefleksikan ramalan pribadinya terhadap dunia masa depan setelah dipaksa bersatu untuk merespon ancaman alien dan akhirnya pecah lagi setelah ancaman tersebut terhapuskan.

Pengembangan karaternya cukup baik, dari Bean yang makin lama makin jatuh hati dengan Petra lalu menikahinya, Peter yang dengan dukungan orangtuanya akhirnya membentuk Free People of Earth (semacam PBB) dan dikenang sebagai salah satu orang paling baik dan berpengaruh sepanjang masa walaupun di masa kecil dia kasar sekali terhadap Ender dan Valentine, Virlomi yang mulai terkena delusi bahwa dia terlahir sebagai Dewi pembimbing India, Han Tzu yang naik ke tahta Emperor Cina, Alai yang dimahkotai sebagai Khalifah umat Muslim di penjuru dunia, sampai Achilles yang menemukan bakat asli dan iblis dalam dirinya untuk menjadi tokoh antagonis utama di ketiga buku ini.

Tapi tetap saja saya kesulitan membawa buku ini ke hati.

Dialog-dialog yang Card bawakan tetap tajam seperti biasa, sayangnya sering semua karakter terkesan seperti bicara dan berpikir dalam satu suara. Para lulusan Battle School dan anggota-anggota Ender’s Jeesh ini saking pintarnya mereka bisa melihat dua-tiga langkah ke depan dan menebak semua sebab-akibat dengan benar. Betapa membosankan dan monoton, saya kira. Analisis Bean yang terlalu dieksploitasi, penjabaran tentang manuver politik seperti “negara apa lawan negara apa, kenapa bisa begitu, apa konsekuensinya dan bagaimana cara kita berperang” terlalu didiktekan seperti buku pelajaran formal. Adegan-adegan yang seharusnya membangkitkan emosi tidak bisa mengulurkan tangan dan mencapai hati saya lagi karena saya terlalu lelah memproses semua detail yang ada.

Dalam peta mental saya, dari buku Ender’s Game, cabang Shadownya makin lama kualitasnya makin menurun kecuali Ender’s Shadow. Bukan berarti ketiga buku ini total tak perlu dibaca, bukan. Saya akan tetap merekomendasikannya bagi siapa saja yang ingin mencari buku bagus, tapi kalau rasa suka Anda dan keinginan Anda untuk setia pada serial ini tidak terlalu besar, mungkin Anda akan lebih kelelahan daripada saya. Mengecek angka halaman setiap kali untuk mengira-ngira kapan halaman terakhir tiba.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: