Earthsea Cycle – A Wizard of Earthsea

September 9, 2010 at 2:20 am (Buku) (, , , , , )

Fuwaaaah…. istirahat dulu dari realm science fiction dan kembali singgah ke dunia fiksi yang memenuhi masa kecil saya: epic fantasy.
Liburan kuliah yang menyenangkan ini memungkinkan saya memakai waktu berleha-leha untuk mencari film-film bagus yang tersebar di seantero internet. Dan saya memanfaatkan kesempatan emas ini untuk megecek perkembangan salah satu studio animasi terbaik yang saya ketahui: Studi Ghibli. Saya ingat saya belum sempat menonton Tales from Earthsea yang mereka produksi baru-baru ini. Film ini diadaptasi dari serangkaian buku Earthsea Cycle karangan Ursula K. LeGuin, terbitan tahun 60-an, salah satu seri buku Epic Fantasy yang paling digemari dan paling banyak diberi penghargaan di luar sana.

Variasi cover buku A Wizard of Earthsea, buku pertama Earthsea Cycle

Setelah menonton Tales from Earthsea dan menyadari bahwa banyak yang kecewa dengan film ini karena nggak berhasil menggambarkan atmosfir yang sama seperti yang diciptakan oleh bukunya, saya lalu tergelitik untuk mencari tahu aslinya itu emang seperti apa. Saya pun menelusuri dunia maya tanpa hasil, berniat menyerah dan beralih ke buku-buku karya LeGuin lainnya ketika pada suatu hari yang membahagiakan, mama saya mengajak saya ke Gramedia dan disana saya menemukan versi Indonesianya. Hah!


Saya memelas dengan sepenuh hati minta dibelikan dan memang dibelikan. Benar deh, saya bahagia. Nggak menyangka masih ada peluang bagi buku-buku tua seperti Earthsea Cycle untuk dilirik penerbit Indonesia. Yah, dengan pengalaman diterjemahkannya Narnia dan Three Kingdoms dan buku tua lainnya seenggaknya harapan saya masih tinggi bahwa buku bagus akan menemukan jalannya ke para pembaca…

Lanjut. Buku ini bercerita tentang Sparrowhawk yang bernama Sejati Ged, seorang anak yang dilahirkan tanpa mengetahui bahwa dirinya memiliki kekuatan sihir yang sangat dahsyat. Setting ceritanya adalah Earthsea, dunia datar dimana sihir merupakan hal yang umum, benda-benda dan bintang-bintang memiliki setiap nama Sejati yang hanya diketahui penyihir-penyihir kuat untuk dikendalikan, dan makhluk-makhluk magis berkeliaran dimana-mana. Yah, kombinasikanlah Lord of the Rings, Harry Potter, dan berbagai macam fiksi barat lainnya yang Anda ketahui untuk bisa membayangkan dunia ini. Bahkan LeGuin juga mendedikasikan waktunya untuk mereka sebuah peta Earthsea yang menjadi acuan pembaca selama perjalanan Ged berlangsung, yang selalu saya lirik berkali-kali agar tidak kehilangan arah.

Sparrowhawk akhirnya diperkenalkan ke dunia sihir dan sampai ke sekolah sihir terhebat di Earthsea, terletak di Roke. Setelah lulus dan mendapatkan statusnya sebagai penyihir, dia pun berkeliling dunia. Inti dari perjalanan Sparrowhawk adalah menemukan kembali makhluk kegelapan yang telah dilepaskannya semasa dia masih bersekolah dan memusnahkannya karena makhluk itu membawa bahaya besar bagi dirinya dan orang lain seandainya makhluk itu sampai mengalahkannya. Kalau saya ringkaskan begini kedengarannya begitu sederhana, tapi saya kaget sendiri akan kuatnya dunia Earthsea menyerap perhatian saya. Gaya bahasa LeGuin tidak mengeksplotasi dialog antar-karakter (mungkin seperti inilah semua gaya bahasa buku-buku tua,) lebih ke arah deskriptif dan kontemplatif. Saya juga mengakui kalau terjemahan bahasa Indonesianya termasuk baik sekali, rasa puitisnya tidak hilang walau tentu sang penerjemah pasti kesal dengan terbatasnya kosakata bahasa Indonesia dalam mendeskripsikan segala sesuatu (sebagai sesama penerjemah seenggaknya saya juga sudah tahu rasanya :p).  LeGuin juga menulis dengan cara yang sangat meyakinkan, setiap kalimat yang ia sampaikan hanya menyiratkan seberapa dalam pengetahuannya akan dunia rekaannya ini, seberapa lama ia sudah memikirkan segala detil dan hal-hal kecil yang ada. Nama-nama daerah, karakteristik penduduk, legenda-legenda lokal, tragedi, festival, penggambaran laut, daratan dan bintang, cara sihir digunakan, semua itu dibangun begitu kokoh. Jelas ia penulis yang penuh rencana dan imajinasi, dan sebagai pembaca mau tak mau saya dibuat takjub akan kepiawaiannya ini.

Selain gaya, tema yang diangkat juga begitu menarik hati. Mengejar bayangan sendiri yang diciptakan dari bagian hati yang tergelap. Sang bayangan memburu Sparrowhawk selama bertahun-tahun ia hidup, setiap kali bertemu dengan makhluk itu ia terpaksa lari karena sang bayangan mengetahui nama Sejatinya dan terus memaksa Sparrowhawk kabur darinya. Hanya setelah ia memberanikan diri untuk berbalik dan menjadi pemburu bagi si bayangan itu sendiri alih-alih diburu, barulah ia dapat bebas dari cengkeramannya. Sangat cocok dengan kisah hidup begitu banyak manusia di dunia yang jauh berbeda ini. Kita seringkali hanya bisa lari dari kesalahan terbesar kita tanpa berani menoleh ke belakang dan berbalik mengejar dia, memandangnya mata-ke-mata dan menerimanya sebagai bagian dari diri kita, sama seperti Ged yang akhirnya bersatu dengan bayangannya. Sesuai dengan pepatah tiada kata tanpa kesunyian, terang tanpa gelap, yin yang, putih hitam, semacam itu.

Ide-ide filosofis yang tersebar di halaman-halaman ini juga membuat saya rindu akan suatu hal yang saya tidak tahu apa. Kalimat-kalimat yang dapat diartikan secara harfiah di novel ini hanya bisa menjadi alegori bagi dunia nyata. Memang buku itu pelarian yang menyenangkan, tapi tetap sebuah pelarian. Kita yang lahir di Bumi ini harus tunduk pada aturan Bumi yang lebih kuat daripada kita. Yah, yasudahlah.

Dalam satu buku yang termasuk pendek ini (hanya 334 halaman dalam bahasa Indonesia,) LeGuin sudah memperingatkan bahwa masih ada banyak sekali untuk diceritakan di buku-buku lainnya. Sparrowhawk sendiri sudah dikatakan akan meniti jalan menjadi Archmage, penyihir terkuat di Earthsea, tapi dengan memberitahu hal ini LeGuin menekankan bahwa yang penting untuk dikisahkan adala prosesnya. Saya setuju, dan saya menantikan dengan sangat lanjutan terjemahan buku Earthsea Cycle lainnya.

Rating: 9/10

Iklan

2 Komentar

  1. ester said,

    emang ada filmnya ya??? Waaaaahhh pengen nonton,,, masuk indo ga? Saya baru baca buku 1,, waktu ke gramed sudah ada buku 2 tapi karna duit ga cukup jadi nunda dulu,, eh pas balik mau beli udah ga ada,,, *hiks
    katanya novel ini salah satu inspirasi JKR waktu lagi nulis HarPot..

  2. redprint said,

    Iya.. ada filmnya tapi kata LeGuin sendiri beliau kurang suka :< entah yang live-action bikinan Amerika atau yang karyanya Ghibli. Hehe, mungin memang tergantung sutradara ya…

    Wah saya juga denger kalo ini salah satu buku yang menginspirasi HarPot hahaha. Buku ke-2nya juga bagus, tapi jauh lebih lambat pacingnya daripada buku 1, n jauh lebih sedikit karakter.. 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: