Tidak Produktif

Agustus 28, 2011 at 3:43 am (Anime) (, , , , , )

Masih liburan kuliah, wajar kan kalau saya kasih judul entri seperti ini? Memang agak merasa bersalah sih, tapi apa boleh buat. Begitu banyak yang harus dibaca, ditonton, didengar, begitu sedikit waktu. Ada peribahasa yang bilang kalau buku (di kasus ini anggap saja segala jenis medium storytelling) itu seperti teman-teman, sebaiknya sedikit dan dipilih dengan hati-hati. Saya agaknya sudah melanggar peribahasa ini.

Sebagai bahan referensi kalau-kalau di masa depan nanti saya mau menoleh ke belakang dan menertawakan diri sendiri, lebih baik saya mulai mencatat apa yang bisa saya catat.

Mari mulai dengan anime. Setelah sekian lama berkecimpung di dunia nyata dengan dosis animasi Jepang yang minimum (hanya bisa menikmati hasil barteran dengan teman-teman,) alam bawah sadar saya membalas dendam pada jaringan LAN rumah. Ada… 6 anime yang sekarang sedang saya maraton, yang walaupun ditonton pelan-pelan tetap saja beresiko bagi otak, makin membuat kepekaan emosi saya jadi kebal dan menumpulkan syaraf-syaraf kreativitas. Yah, pokoknya, ini dafar acaknya:

1. Ao no Exorcist

Demi bisa nonton anime bareng adik, saya koleksilah serial shounen ini, walaupun awalnya saya pikir saya sudah ‘selesai’ dengan genre shounen klasik. Lumayan sih, sedikit membangkitkan spirit masa muda (ohok ohok) walau banyak fans (termasuk saya) yang protes karena fillernya memakan sebagian besar slot episode yang ada, dan plot inti berjalan begitu lambat. Baru saya tonton sampai #19, mata saya sedang memerhatikan Yukio… menunggu sesuatu yang lebih besar untuk terjadi.

2. No.6

Saya langsung flashback ke novel 1984 dan Brave New World sekaligus manga Marginal. Kecuali, fokus dari No.6 (setidaknya yang versi anime,) lebih kepada hubungan antar karakter. Hal-hal berbau teknis jarang disentuh dan kalaupun iya, eksposisi ditahan ke level yang sedangkal mungkin. Saya juga sedang mengikuti terjemahan rangkuman dari novelnya, dan merasa agak sayang karena aura obsesif-setengah-psycho yang terdapat di novelnya tidak tercerminkan di animenya. Yah, yang penting untunglah noitaminA dan BONES yang pegang, jadi masih layak untuk dikoleksi. Progress baru sampai #8, sedang berharap sisi lain Shion bisa terungkap suatu saat.

3. Natsume Yuujinchou San

Kedua sesason sebelumnya begitu mengena, nggak heran saya menantikan yang ketiga. Masih episodik dan menyinggung kehidupan manusia-slash-youkai, tetap dibawakan dengan manis dan seringkali berakhir dengan helaan nafas, saya senang sekali popularitas serial ini begitu tinggi sampai season tiganya dibuat. Progress di #8 (HorribleSubs bilangnya #34,) dan saya agak menantikan penuntasan masalah dengan Matoba, walau saya tahu nggak boleh berharap terlalu banyak…

4. Mawaru Penguindrum

Rekomendasi kakak. Ternyata sangat menyenangkan untuk ditonton. Episode awal memberikan janji kegilaan; scene-scene serampangan penuh warna dengan plot yang mungkin bisa naik turun sesuai ilham pagi Ikuhara, tapi ternyata susunan ceritanya cukup erat dan solid. Dengan penguin-penguin berkeliaran dan simbolisme-simbolisme yang nggak tahan entah harus diketawain atau ditangisi, anime ini merupakan salah satu yang paling saya tunggu perkembangannya. Progress agak telat, baru #6. Keep Shouma off of Ringo.

5. Ghost Hound

Ini hasil browisng daftar anime orang lain, anime tua, produksi 2007. Saya baru tahu ternyata ini proyek 20 tahunnya Production IG (GYAAGYAAPURODAKUSHIONAIJI) jadi tak bisa tak bisa tak bisa dilewatkan. Progress masih sangat bontot, baru #4 tapi saya sudah jatuh cinta. Ironi chara design loli dengan tema psikologis ditambah melintasnya hantu-hantu dan tubuh astral mirip Casper dengan otak dan jeroan warna warni benar-benar top. Jujurnya sih saya masih belum tahu kemana arah anime ini akan jalan, tapi menonton tiap episodenya malam-malam sendirian dengan earphone selalu memberi kepuasan tersendri.

6. Tiger & Bunny

Rekomendasi teman. Episode pertamanya sangat catchy, dimana pesan bahwa kapitalisme telah memakan segala sudut kehidupan manusia modern berkeliaran. Para pembela kebenaran jadi bahan promosi dan marketing, keselamatan jadi komoditas drama dan rating. Menarik. Ditambah lagi salah satu tokoh utamanya adalah seorang papa yang berputri. Dengan lapisan CG yang jadi kontroversi fandom, cerita sesungguhnya sebenarnya sangat mengangkat hati karena mereka menebar alur yang perkiraan endingnya optimistis serta simpel. Progress terlambat, masih di #12.

Oke, kesimpulannya: saat ini saya memang sangat TIDAK PRODUKTIF. Mari tutup dengan sesuatu yang memberikan harapan: bahwa suatu saat saya akan kembali produktif. Mungkin pas masuk kuliah…

Permalink 3 Komentar

Seirei no Moribito – Guardian of the Sacred Spirit

Oktober 23, 2010 at 7:16 am (Anime) (, , , , )

Nahji, koikoi. Nahji, koikoi….*

🙂

Saya kira saya nggak bakal bisa disentuh lagi sama anime. Syukurlah saya benar…

…benar SALAH.

Entah apa yang mencegah saya menonton anime ini pada saat lagi diproduksi (2007), tapi saya bersyukur kesempatannya datang sekarang, dimana saya sudah lelah dengan segala tipikal cerita anime yang saking dramatisnya makin nggak realistis, dengan karakter yang sifatnya itu-itu saja, dengan fanservice yang ditebar bikin capek, animasi gawat yang bikin frustasi…. aaah…

Dan Seirei no Moribito adalah kebalikan dari semuanya itu. Saya bersyukur sekali masih bisa menonton anime seperti ini, serasa menonton karya Miyazaki yang diperpanjang jadi 12 jam, dan hal itu sangat menyenangkan. Animasinya luar biasa, detail pemandangannya, pergerakan tiap karakter, pergerakan benda-benda, pergerakan alam… Luar biasa. Kualitas sebuah movie, dan sama sekali tidak menurun selama 26 episode. Musik yang indah dan sangat cocok dengan tiap scene yang ada, adegan pertarungan yang dipuji oleh semua pihak (terlebih lagi adegan tersebut jarang ada, hanya kalau perlu saja, begitu realistis,) pengembangan karakter yang mendalam, dan cerita yang mampu mencengkram perhatian (ini salah satu anime yang bisa membuat kita menjadi manusia yang lebih baik setelah menontonnya, serius. Haha.) Apa lagi?

Pertama kali melihat ulasannya di Animonster 3 tahun lalu, saya punya banyak harapan terhadap anime ini. Dan waktu pun berjalan, saya melupakannya untuk beberapa waktu, lalu ketika saya sedang iseng mengingat-ingat judul anime yang sepertinya potensial untuk ditonton, Seirei no Moribito muncul. Saya download semua episodenya dan menontonnya, kadang pelan-pelan, 1-2 episode per hari, kadang maraton kayak hikikomori nggak ada kerjaan. Lalu hari ini, hari dimana saya harusnya melakukan persiapan final untuk ikut IndonesiaMUN, saya menyelesaikan sebagian akhir episodenya. Betapa melegakan. Sedih, menyenangkan, menginspirasi, memuaskan.

Sebenarnya jalan ceritanya itu tentang seorang wanita berusia 30 tahun, Balsa, yang berprofesi menjadi bodyguard, bersenjatakan tombak, dan sedang dalam perjalanan memenuhi misinya untuk menyelamatkan 8 orang nyawa manusia sebagai ganti nyawa 8 orang sahabat yang sudah ‘dia’ bunuh di masa lalu. Dan datanglah kesempatan untuk menyelamatkan nyawa kedelapan, nyawa seorang Pangeran (Pangeran Kedua,) Chagum, yang terancam karena ayahnya sendiri, sang Kaisar, ingin membunuhnya. Alasannya adalah sang Pangeran kecil ini ditafsirkan sedang membawa sebuah telur roh setan air dalam dirinya, yang ketika menetas, akan membawa kekeringan panjang bagi seantero kerajaan. Permaisuri Kedua, ibu Chagum, akhirnya memutuskan untuk menyewa Balsa untuk menjaga anaknya seumur hidupnya. Balsa pun setuju.

Saya nggak bisa lanjut sama ceritanya, soalnya dia punya banyak twist di tengah series yang kalau dijelaskan bakal memakan 2 kali panjang review saya terhadap Ender’s Game. Satu hal yang mau saya tekankan adalah orang yang bisa menerima Moribito dengan sepenuh hati sepertinya hanya pecinta anime dewasa yang sudah lewat masa-masa ‘Naruto’ dan ‘Bleach’-nya. Yang ingin mengerti apa arti ‘cerita’ itu sesungguhnya dan sudah punya sedikit pengalaman untuk meletakkan hal-hal pemuas indra seperti fanservice berbau seks, eye-candy, dan drama gila-gilaan di posisi yang lebih rendah daripada kebijaksanaan. Tapi mereka yang tidak termasuk golongan ini pun bahkan bisa memuaskan diri dengan segala detil yang ada. Sepertinya…

Betapa realistisnya Seirei no Moribito walaupun memiliki unsur fantasi juga merupakan satu hal yang patut diacungi jempol. Hubungan antar karakter, cara masing-masing individu berusaha bereaksi terhadap semua hal… (saya masih belum lupa bagaimana Shuga menahan diri memberikan informasi terhadap Pangeran Sagum, tidak menyadari bahwa itulah saat-saat terakhir hidupnya,) dan pertumbuhan personal (Chagum itu karakter yang luar biasa (: ) dapat saya rasakan terjadi pada siapa saja di dunia nyata ini. Walaupun beberapa orang memprotes bahwa tidak ada karakter yang benar-benar dari sononya jahat, sepertinya semua karakter berniat baik, tapi ya sudahlah. Intrik politik yang ada sudah cukup memancing pikiran saya. Bahkan anime ini sendiri sebenarnya diangkat dari buku yang ditujukan kepada anak-anak. Production I.G. memang keren, haha.

Pokoknya ini salah satu anime terbaik yang pernah saya tonton. Huff.

Sekarang lanjut IMUN, berharap saya mendapat kekuatan ekstra.

*Nahji = Nama burung yang seharusnya mengantar telur roh air dalam tubuh Chagum ke laut untuk memberikan berkatnya kepada kerajaan.

*koikoi = Come, come. Kemari, kemari.

Permalink 4 Komentar