Pottermore

Mei 7, 2012 at 10:08 pm (Buku, Dan Sebagainya) (, , , )

–and the Philosopher’s Stone

Waktu saya kecil, sampai sekitar kelas 3 SD, novel… merupakan bacaan menyebalkan yang bikin malas, soalnya saya lihat itu cuma buku tebal penuh kata-kata tanpa gambar. Semuanya berubah setelah saya dipinjami Harry Potter sama teman gereja. Kakak saya yang duluan melahap seisi bukunya tapi setelah itu ya tergeletak begitu saja. Sampai suatu Minggu siang saya beranikan diri membuka covernya, memahami halaman per halaman penuh kata itu, lalu saya jatuh cinta sampai 10 tahun kemudian πŸ˜€

Gateway setelah sign up.

Pottermore merupakan proyek online terbaru JK Rowling yang dipersembahkan bagi para fans die-hard Harry Potter untuk menunjukkan detail tersembunyi dan tidak sempat dituturkan lewat buku ataupun filmnya. Dengan desain web interaktif, kita dimimnta berpartisipasi dalam penelusuran chapter demi chapter setiap buku menggunakan metode click and explore. Hampir-hampir seperti game ketelitian malah. Kita bisa membaca rencana-rencana awal Rowling terhadap plot bukunya, back-story tidak terduga dari karakter-karakter yang kita (pikir) sudah kita kenali, sampai asal mula nama-nama dan inspirasi Rowling dalam membuat dunia Harry.

Dulu limited beta testing dibuka pada tanggal 31 Juli 2011 bagi satu juta fans pertama, tapi sekarang sudah terbuka untuk umum tanggal 14 April 2012.

Hal lain yang unik disini adalah:
Diagon Alley! Kita bisa benar-benar belanja disini, hohoho. Dari binatang peliharaan, kuali sampai perlengkapan bagi para First Years di Hogwarts.


Wand! Huooo kita harus melalui semacam tes kepribadian sebelum menemukan tongkat macam apa yang akan ‘memilih’ kita nantinya. Perbedaannya terdapat di panjang tongkat, inti tongkat dan bahan kayu yang digunakan. Lalu, seperti kuis-kuis kepribadian lucu yang biasa kita temui di internet atau majalah, kita bisa melihat apa arti dari panjang, inti dan bahan tongkat kita.


Sorting Hat! Tidak serta-merta kita akan masuk Gryffindor. Kebetulan saja saya masuk Gryffindor. Sekali lagi kita akan disuguhi berbagai macam pertanyaan untuk menentukan asrama mana yang cocok dengan kepribadian kita. Tapi entah kenapa sepertinya sistem Pottermore mengatur untuk menyeimbangkan jumlah siswa di keempat asrama, jadi…


Setelah kita melewati chapter yang menentukan rumah asrama kita, ada beberapa hal lain lagi yang bisa kita mainkan untuk menambah poin bagi asrama kita:
Potion Brewing: Lumayan tricky pada awalnya, dan membutuhkan kedisiplinan yang tinggi (apalagi kalau sudah disuruh menunggu selama beberapa waktu)


Spell Practices: Bisa duel juga sama teman loh, hehe.


Kalau diringkas, Pottermore ini seperti apa ya… website biasa bukan, visual novel bukan, game juga bukan. Rowling mengatakan bahwa web ini akan menjadi rumah permanen online untuk Harry Potter, jadi mungkin ini semacam gudang informasi yang dibuat seunik dan se-kreatif mungkin. Back sound yang membangun suasana di setiap chapter ditambah lukisan dan animasi yang bagus juga sudah sangat oke kok untuk menjadi daya tariknya.

Sampai saat ini baru Harry Potter and the Philosopher Stone saja yang sudah dibuatkan format Pottermorenya. Semoga buku-buku berikutnya cepat datang πŸ™‚

Permalink 4 Komentar

Alive – The Final Evolution

Januari 4, 2011 at 6:40 am (Buku) (, , , , )

Saya nggak pernah menulis review (baca: curhatan kopong) tentang manga sebelumnya yaa… Kalau begitu ini yang pertama. Memang baru sempat ketemu motivasinya sekarang sih.

Kali ini judulnya Alive – The Final Evolution

Kira-Kira Semua Tokoh Pentingnya Ada Disini

Salah Satu Cover yang Paling Saya Suka

Awalnya akan tekesan seperti manga shonen yang biasa; tentang tiga orang sahabat, karena kedatangan sebuah entitas supranatural yang satu jadi antagonis utama dan yang satu jadi protagonis utama. Si karakter ketiga – sang gadis – akan jadi Yang Diperebutkan, diculik dan berusaha diselamatkan. Begitulah.

Ooo, betapa kita harus melihat sedikit lebih jauh dan dalam. Banyak hal yang (bagi pembaca manga yang agak seniordanberumursepertisaya) jarang atau tidak pernah kita temukan dalam seri manga shonen lainnya yang sama-sama bertemakan action. Karakter utama yang tidak bodoh dan bertarung hanya demi alasan bertarung, nilai-nilai filosofis yang tidak terkesan terlalu emo dan self-centered yang biasanya populer di kalangan remaja ababil, cerita yang kuat, alur yang terencana… Malah semakin mengikuti alur, saya semakin menikmati unsur drama didalamnya dibanding fightingnya. Satu hal yang perlu saya sampaikan, di manga ini karakter utamanya adalah Kanou Taisuke, tetapi begitu banyak karakter lainnya yang memiliki ciri khas spesial dan unik sehingga sekali mengenal mereka akan sulit untuk melupakannya, dan dengan artwork sedetail itu sangat mudah membedakan satu dengan yang lain.

Kedua pihak pembuat, si penulis dan ilustrator, juga seperti menemukan chemistry sendiri dalam membuat Alive. Aliran panel terasa begitu cocok dengan dialog yang ada, dan mungkin karena kedua ilustratornya adalah wanita, manga ini trasa lebih ‘indah’ dari manga-manga ‘untuk cowok’ lainnya. Tapi justru ini hal yang sangat bagus, secara berkali-kali saya ter’waaaw’ dengan epiknya artwork mereka dan betapa tepatnya mereka menggambarkan latar belakang dari padang berumput sampai kota hancur bergelimpangan mayat yang mengingatkan saya dengan gempa di Haiti, sampai barang-barang dari sepatu kotor hingga tank-tank militer. Secara visual, manga ini ada di atas sana.

Soal plot pun tidak masalah, sanagt enak untuk diikuti. Dibawakan dengan rentang waktu dan kesan nyata didalamnya (aduh saya memang suka dengan cerita-cerita fantasi yang dibuat realistis hoho,) mampu membawa emosi pembaca dan ingatan akan hal-hal yang mungkin terpikirkan oleh kita, dari masa kecil kita, hubungan antar-manusia yang kita jalani, mimpi-mimpi kita, ataupun keadaan sekitar kita yang biasa menjadi rutinitas. Tidak heran setelah kesal menunggu chapter yang nggak kunjung muncul di internet, saya selalu teringat untuk kembali mengecek dan mengecek, merasa wajib untuk menyaksikan akhir kisahnya. Hmm memang itulah kekuatan manga bagus ya, bisa membisikkan peringatan di telinga seseorang. Tapi… memang, saya nggak terlalu diyakinkan oleh konsep villain dari luar angkasa yang ingin membawa manusia pada evolusi terakhirnya melalui kematian, dan saya juga nggak suka cara mereka mengembangankan karakter Hirose yang jadinya stereotipikal sekali, tapi yah… semua simpul diikat dengan rapi di halaman terakhir.

Kesimpulannya ini salah satu manga shonen remaja terpenting yang pernah saya baca, saya menyukainya. Sip.

P. S: Ngomong-ngomong habis baca kata-kata terakhir scanlatornya, tentang sang penulis yang berusaha menyelesaikan cerita ini di tempat pembaringannya yang terakhir, saya jadi terharu sendiri.

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Howl’s Moving Castle (Istana yang Bergerak) – Versi Buku

September 11, 2010 at 2:52 am (Buku) (, , , , , , )

Highlight pertama:

TERJEMAHANNYA JELEK.


Jelek sekali. Hiks.

Saya tahu buku ini sudah terbit dari beberapa waktu yang lalu, tapi baru kemarin sempat membeli dan membacanya. Terdorong keingintahuan karena baru-baru ini saya menonton ulang versi animenya yang lagi-lagi dikerjakan oleh Studio Ghibli. Sayangnya di buku ini, jelas sekali si penerjemah kurang pengalaman dalam menerjemahkan. Di paragraf-paragraf terntentu saya bisa merasakan kalau dia mulai malas dengan kerjaannya dan mengartikan asal saja, terlalu harfiah, nggak berusaha merangkai kata yang dapat dipahami pembaca Indonesia tanpa melenyapkan kekhasan gaya bahasa Inggris. Ia juga nggak bisa menyampaikan emosi-emosi yang terselubung dalam berbagai kalimat tertentu yang saya yakin seharusnya memberikan dampak kuat bagi para pembaca dalam bahasa aslinya. Jadi dengan sukses dia menyulap adegan lucu jadi hambar, kalimat-kalimat cerdas jadi kumpulan kata tanpa arti dan plot cerita jadi nggak jelas juntrungannya ke mana. Saya kesal dan kecewa.

Dan saya yakin akan penilaian saya ini bahkan sebelum saya membaca yang versi aslinya. Kenapa?

Diana Wynne Jones sendiri sebagai sang pengarang sangat dihormati dan diakui di negara asalnya, jadi saya yakin ketidaknyamanan membaca saya kebanyakan adalah salah sang penerjemah. Dan bahkan dengan terjemahan seburuk itu saya masih bisa mengatakan bahwa buku ini sangat menghibur dan menyenangkan untuk dibaca.

Plotnya jauh berbeda dengan film, tapi kedua versi sama bagusnya. Karakter-karakter versi film ternyata banyak yang diubah penampilannya, seperti Sophie, Witch of the Waste, Michael (jadi Markl di film,) dan Suliman. Disini juga jumlah karakter yang memainkan peran masing-masing ada lebih banyak.

Hal yang membuat saya suka pada buku ini adalah keunikan cerita dan twist-twistnya. Walaupun termasuk bacaan ringan, saya tahan juga nggak meletakkan buku ini sebelum halaman terakhir. Keputusan Jones untuk nggak menjelaskan beberapa hal krusial dalam bukunya (seperti deskripsi total tentang cara sihir bekerja dan cara Howl berpindah antar dunia,) juga merpakan hal yang baik menurut saya. Hal itu membuat kita nggak hilang arah dari cerita utamanya, dan meninggalkan beberapa bagian cerita untuk kita imajinasikan sendiri, meskipun saya akan lebih senang kalau hal-hal tersebut ia jelaskan. Twistnya mengagetkan dan datang di saat yang tepat. Sudah lama saya nggak membaca buku dengan twist pintar seperti ini, jadi saya senang juga.

Jones juga piawai dalam menggambarkan keunikan sifat para karakternya dan menyusun puzzle yang petunjuknya ia jatuhkan di kalimat-kalimat tertentu (tentu saja semuanya dikacaukan dengan jasa sang penerjemah yang nggak berusaha terlalu keras untuk memahami isi cerita ini.) Ide-ide kreatif bertebaran dimana-mana. Saya rekomendasikan ke siapa saja yang suka fantasi, tapi BACA BAHASA ASLINYA SAJA.

Rating: 8/10

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Earthsea Cycle – A Wizard of Earthsea

September 9, 2010 at 2:20 am (Buku) (, , , , , )

Fuwaaaah…. istirahat dulu dari realm science fiction dan kembali singgah ke dunia fiksi yang memenuhi masa kecil saya: epic fantasy.
Liburan kuliah yang menyenangkan ini memungkinkan saya memakai waktu berleha-leha untuk mencari film-film bagus yang tersebar di seantero internet. Dan saya memanfaatkan kesempatan emas ini untuk megecek perkembangan salah satu studio animasi terbaik yang saya ketahui: Studi Ghibli. Saya ingat saya belum sempat menonton Tales from Earthsea yang mereka produksi baru-baru ini. Film ini diadaptasi dari serangkaian buku Earthsea Cycle karangan Ursula K. LeGuin, terbitan tahun 60-an, salah satu seri buku Epic Fantasy yang paling digemari dan paling banyak diberi penghargaan di luar sana.

Variasi cover buku A Wizard of Earthsea, buku pertama Earthsea Cycle

Setelah menonton Tales from Earthsea dan menyadari bahwa banyak yang kecewa dengan film ini karena nggak berhasil menggambarkan atmosfir yang sama seperti yang diciptakan oleh bukunya, saya lalu tergelitik untuk mencari tahu aslinya itu emang seperti apa. Saya pun menelusuri dunia maya tanpa hasil, berniat menyerah dan beralih ke buku-buku karya LeGuin lainnya ketika pada suatu hari yang membahagiakan, mama saya mengajak saya ke Gramedia dan disana saya menemukan versi Indonesianya. Hah!


Saya memelas dengan sepenuh hati minta dibelikan dan memang dibelikan. Benar deh, saya bahagia. Nggak menyangka masih ada peluang bagi buku-buku tua seperti Earthsea Cycle untuk dilirik penerbit Indonesia. Yah, dengan pengalaman diterjemahkannya Narnia dan Three Kingdoms dan buku tua lainnya seenggaknya harapan saya masih tinggi bahwa buku bagus akan menemukan jalannya ke para pembaca…

Lanjut. Buku ini bercerita tentang Sparrowhawk yang bernama Sejati Ged, seorang anak yang dilahirkan tanpa mengetahui bahwa dirinya memiliki kekuatan sihir yang sangat dahsyat. Setting ceritanya adalah Earthsea, dunia datar dimana sihir merupakan hal yang umum, benda-benda dan bintang-bintang memiliki setiap nama Sejati yang hanya diketahui penyihir-penyihir kuat untuk dikendalikan, dan makhluk-makhluk magis berkeliaran dimana-mana. Yah, kombinasikanlah Lord of the Rings, Harry Potter, dan berbagai macam fiksi barat lainnya yang Anda ketahui untuk bisa membayangkan dunia ini. Bahkan LeGuin juga mendedikasikan waktunya untuk mereka sebuah peta Earthsea yang menjadi acuan pembaca selama perjalanan Ged berlangsung, yang selalu saya lirik berkali-kali agar tidak kehilangan arah.

Sparrowhawk akhirnya diperkenalkan ke dunia sihir dan sampai ke sekolah sihir terhebat di Earthsea, terletak di Roke. Setelah lulus dan mendapatkan statusnya sebagai penyihir, dia pun berkeliling dunia. Inti dari perjalanan Sparrowhawk adalah menemukan kembali makhluk kegelapan yang telah dilepaskannya semasa dia masih bersekolah dan memusnahkannya karena makhluk itu membawa bahaya besar bagi dirinya dan orang lain seandainya makhluk itu sampai mengalahkannya. Kalau saya ringkaskan begini kedengarannya begitu sederhana, tapi saya kaget sendiri akan kuatnya dunia Earthsea menyerap perhatian saya. Gaya bahasa LeGuin tidak mengeksplotasi dialog antar-karakter (mungkin seperti inilah semua gaya bahasa buku-buku tua,) lebih ke arah deskriptif dan kontemplatif. Saya juga mengakui kalau terjemahan bahasa Indonesianya termasuk baik sekali, rasa puitisnya tidak hilang walau tentu sang penerjemah pasti kesal dengan terbatasnya kosakata bahasa Indonesia dalam mendeskripsikan segala sesuatu (sebagai sesama penerjemah seenggaknya saya juga sudah tahu rasanya :p).Β  LeGuin juga menulis dengan cara yang sangat meyakinkan, setiap kalimat yang ia sampaikan hanya menyiratkan seberapa dalam pengetahuannya akan dunia rekaannya ini, seberapa lama ia sudah memikirkan segala detil dan hal-hal kecil yang ada. Nama-nama daerah, karakteristik penduduk, legenda-legenda lokal, tragedi, festival, penggambaran laut, daratan dan bintang, cara sihir digunakan, semua itu dibangun begitu kokoh. Jelas ia penulis yang penuh rencana dan imajinasi, dan sebagai pembaca mau tak mau saya dibuat takjub akan kepiawaiannya ini.

Selain gaya, tema yang diangkat juga begitu menarik hati. Mengejar bayangan sendiri yang diciptakan dari bagian hati yang tergelap. Sang bayangan memburu Sparrowhawk selama bertahun-tahun ia hidup, setiap kali bertemu dengan makhluk itu ia terpaksa lari karena sang bayangan mengetahui nama Sejatinya dan terus memaksa Sparrowhawk kabur darinya. Hanya setelah ia memberanikan diri untuk berbalik dan menjadi pemburu bagi si bayangan itu sendiri alih-alih diburu, barulah ia dapat bebas dari cengkeramannya. Sangat cocok dengan kisah hidup begitu banyak manusia di dunia yang jauh berbeda ini. Kita seringkali hanya bisa lari dari kesalahan terbesar kita tanpa berani menoleh ke belakang dan berbalik mengejar dia, memandangnya mata-ke-mata dan menerimanya sebagai bagian dari diri kita, sama seperti Ged yang akhirnya bersatu dengan bayangannya. Sesuai dengan pepatah tiada kata tanpa kesunyian, terang tanpa gelap, yin yang, putih hitam, semacam itu.

Ide-ide filosofis yang tersebar di halaman-halaman ini juga membuat saya rindu akan suatu hal yang saya tidak tahu apa. Kalimat-kalimat yang dapat diartikan secara harfiah di novel ini hanya bisa menjadi alegori bagi dunia nyata. Memang buku itu pelarian yang menyenangkan, tapi tetap sebuah pelarian. Kita yang lahir di Bumi ini harus tunduk pada aturan Bumi yang lebih kuat daripada kita. Yah, yasudahlah.

Dalam satu buku yang termasuk pendek ini (hanya 334 halaman dalam bahasa Indonesia,) LeGuin sudah memperingatkan bahwa masih ada banyak sekali untuk diceritakan di buku-buku lainnya. Sparrowhawk sendiri sudah dikatakan akan meniti jalan menjadi Archmage, penyihir terkuat di Earthsea, tapi dengan memberitahu hal ini LeGuin menekankan bahwa yang penting untuk dikisahkan adala prosesnya. Saya setuju, dan saya menantikan dengan sangat lanjutan terjemahan buku Earthsea Cycle lainnya.

Rating: 9/10

Permalink 2 Komentar

Shadow Quartet

September 7, 2010 at 9:35 am (Buku) (, , , , , , , )

Yeeppp. Lagi-lagi nggak tahan buat nggak ngoceh setelah baca buku. Ayo kita mulai dengan Shadow Quartet dulu. Lanjutan Ender’s Game yang berfokus pada teman-teman Ender.

Oke. Pertama Ender’s Shadow, semacam parallel novel yang settingnya persis sama dengan Ender’s Game cuma dilihat dari perspektif Bean. Siapa Bean itu? Seorang anak bertubuh sangat kecil yang lahir dari percobaan genetik yang memungkinkan dia menjadi orang terpintar di Bumi dengan ongkos umur pendek akibat dia akan terus bertumbuh menjadi raksasa karena otaknya juga tak berhenti bertumbuh. Disini diceritakan jalan hidup Bean sejak dia kecil, kesusahannya jadi anak jalanan di Rotterdam setelah lari dari laboratorium tempat ia dibuahi secara in-vitro dan dirawat semasa bayi, pertemuannya dengan Achilles, Poke dan Suster Carlotta, dan ke Battle School. Disanalah dia bertemu dengan Ender dan di-klaim menjadi backup atau plan B seandainya Ender gagal menyelamatkan para manusia dari Bugger. Dan di buku ini pula kita diperkenalkan dengan istilah Ender’s Jeesh (jeesh adalah bahasa Arabnya laskar,) yang berartiΒ  anak-anak yang ikut bergabung membantu Ender di pertarungan terakhir mereka di Command School yang berakibat musnahnya ras Bugger.

Buku ini juga cukup luar biasa walaupun untuk saya Ender’s Game masih nomor satu. Card menggambarkan karakteristik Bean si jenius dengan sangat meyakinkan, meletakkan posisinya sebagai pembuat strategi yang sebenarnya lebih baik daripada Ender. Bean bisa menganalisis suatu kasus dari data yang begitu sedikit, mengetahui tujuan sebuah aksi dan menebak berbagai hal yang Ender sendiri tidak pernah tahu hanya atas dasar logika. Tapi biarpun Bean jauh lebih pintar daripada Ender, Card juga berhasil menyampaikan pesan bahwa Ender lebih superior dalam kepemimpinan dan pemahaman watak manusia dimana hal itulah yang dibutuhkan oleh seorang Battle Commander. Fokus Bean saat itu adalah bertahan hidup, dibayangi trauma masa kecilnya yang begitu menyedihkan di jalanan Rotterdam sehingga ia tidak sehangat Ender, tidak bisa membuat orang menyukai dirinya seperti Ender, membuat semua temannya begitu loyal dan berani mati demi dirinya. Ending buku ini lebih happy daripada Ender’s Game karena Bean akirnya menemukan orangtua aslinya di Bumi dan saudara kandungnya di Battle School.

Lanjut ke ketiga buku Shadow selanjutnya. Shadow of the Hegemon, Shadow Puppets dan Shadow of the Giant adalah kumpulan drama politik dengan setting yang dibuat sekaya mungkin, penuh dengan referensi sejarah dan taktitk militer. Atmosfirnya jauuuh sekali beda dengan kedua buku sebelumnya. Inti cerita sekarang adalah kisah hidup para anggota Ender’s Jeesh dan lulusan Battle School lain di Bumi setelah para Bugger tiada. Karena Ender tidak diperbolehkan pulang ke Bumi, merekalah tokoh-tokoh kunci yang berperan penting membentuk sistem pemerintahan dan memainkan perang-perang besar di Bumi. Karakter yang paling dikembangkan disini adalah tentu Bean (yang akhirnya diketahui bernama asli Julian Delphiki,) Petra Arkanian, salah satu anggota Ender’s Jeesh, Achilles si tokoh jahat dari masa kecil Bean, Peter Wiggin kakak Ender yang berupaya menyatukan dunia, orangtua Ender John Paul dan Theresa Wiggin, Han Tzu dan Alai, anggota Ender’s Jeesh juga, serta beberapa karakter lain seperti Virlomi (India) dan Suriyawong (Thailand), lulusan Battle School.

Jujur, dibandingkan dengan Ender’s Game dan Ender’s Shadow dimana setting ceritanya masih di sekitar luar angkasa, saya malah makin sulit mencerna ketiga buku terakhir ini. Padahal saya anak Hubungan Internasional, yang harusnya makan drama politik tiap hari. Card memang terbukti ahli dalam bidangnya, dia mengerti sekali tabiat para pemimpin besar di masa lalu, tahu arah sejarah kontemporer, dan berani mengaplikasikannya ke dalam sebuah tatanan dunia yang ia ciptakan sendiri. Mendengar kalimat-kalimat seperti ‘India memiliki populasi terbesar di dunia,’ ‘Amerika menarik diri dari pergolakan militer dunia karena tidak pernah melihat aksinya membuahkan sesuatu selain cercaan dan sakit hati,’ ‘Eropa adalah kumpulan negara tua yang lelah dan ketinggalan jaman,’ merefleksikan ramalan pribadinya terhadap dunia masa depan setelah dipaksa bersatu untuk merespon ancaman alien dan akhirnya pecah lagi setelah ancaman tersebut terhapuskan.

Pengembangan karaternya cukup baik, dari Bean yang makin lama makin jatuh hati dengan Petra lalu menikahinya, Peter yang dengan dukungan orangtuanya akhirnya membentuk Free People of Earth (semacam PBB) dan dikenang sebagai salah satu orang paling baik dan berpengaruh sepanjang masa walaupun di masa kecil dia kasar sekali terhadap Ender dan Valentine, Virlomi yang mulai terkena delusi bahwa dia terlahir sebagai Dewi pembimbing India, Han Tzu yang naik ke tahta Emperor Cina, Alai yang dimahkotai sebagai Khalifah umat Muslim di penjuru dunia, sampai Achilles yang menemukan bakat asli dan iblis dalam dirinya untuk menjadi tokoh antagonis utama di ketiga buku ini.

Tapi tetap saja saya kesulitan membawa buku ini ke hati.

Dialog-dialog yang Card bawakan tetap tajam seperti biasa, sayangnya sering semua karakter terkesan seperti bicara dan berpikir dalam satu suara. Para lulusan Battle School dan anggota-anggota Ender’s Jeesh ini saking pintarnya mereka bisa melihat dua-tiga langkah ke depan dan menebak semua sebab-akibat dengan benar. Betapa membosankan dan monoton, saya kira. Analisis Bean yang terlalu dieksploitasi, penjabaran tentang manuver politik seperti “negara apa lawan negara apa, kenapa bisa begitu, apa konsekuensinya dan bagaimana cara kita berperang” terlalu didiktekan seperti buku pelajaran formal. Adegan-adegan yang seharusnya membangkitkan emosi tidak bisa mengulurkan tangan dan mencapai hati saya lagi karena saya terlalu lelah memproses semua detail yang ada.

Dalam peta mental saya, dari buku Ender’s Game, cabang Shadownya makin lama kualitasnya makin menurun kecuali Ender’s Shadow. Bukan berarti ketiga buku ini total tak perlu dibaca, bukan. Saya akan tetap merekomendasikannya bagi siapa saja yang ingin mencari buku bagus, tapi kalau rasa suka Anda dan keinginan Anda untuk setia pada serial ini tidak terlalu besar, mungkin Anda akan lebih kelelahan daripada saya. Mengecek angka halaman setiap kali untuk mengira-ngira kapan halaman terakhir tiba.

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Ender’s Game

Agustus 17, 2010 at 11:01 pm (Buku)

Apalah artinya saya review buku ini? Demi melancarkan sistem tubuh saya saja rasanya. Daripada saya teriak-teriak kayak orang gila, lebih baik saya menulis nggak tentu arah.

Ender's Game cover 1985

Ender's Game cover

Ender's Game E-book Cover by Sam Weber

Ender's Game E-book Cover

Iya, iya saya tau ini buku tua, terbitnya saja 1985. Dan saya bahkan nggak yakin orang Indonesia familiar sama buku yang menurut saya sangat menangkap hati ini. Memang versi bahasa Indonesianya setahu saya tidak pernah diterbitkan.

Saya sendiri pertama mendengar soal buku ini saat sedang berlalu-lalang di thread ‘Recommended Books’ di salah satu forum yang anggota-anggotanya sangat saya hormati. Banyak sekali yang menyodorkan buku ini sebagai daftar teratas buku favorit mereka. Dan setelah PENCARIAN KERAS (yah, nggak keras-keras amat sih kalau tahu caranya πŸ˜‰ haha) saya akhirnya bisa menemukan buku ini dalam versi yang lebih ‘overseas-people-friendly’ tebak saja deh versi apa itu.

Tokoh utama buku ini, Andrew Wiggin (selalu disebut Ender), anak ketiga bersaudara Peter Wiggin (tertua) dan Valentine Wiggin, akhirnya diajak oleh Kolonel Graff dari International Fleet, pasukan militer saat itu, untuk berlatih di Battle School luar angkasa dan menjadi calon terkuat Battle Commander manusia untuk menumpas para Bugger, alien yang dianggap akan menghancurkan umat manusia. Dunia sudah jauh di masa depan dimana pesawat tempur antariksa sudah dibutuhkan, komunikasi tanpa batas ruang dan waktu sudah tercipta (lewat alat yang disebut ansible,) dan pemerintahan dunia terbagi tiga: Strategos, Polemarch dan Hegemon. Para Bugger sudah menginvasi dunia dua kali, dan manusia mewanti-wanti invasi ketiga. Tujuan utama yang dibuat bagi Ender adalah agar ia dapat memimpin pasukan manusia mendatangi planet rumah para Bugger dan menyerang mereka di sana.

Nah.

Dalam inti cerita yang kalau saya ringkaskan terkesan simpel dan monoton ini, ada begitu banyak hal yang saya pelajari. Banyak sekali adegan yang tak disangka-sangka bisa meremas hati saya begitu keras padahal saya kira saya sudah membaca cukup banyak buku dan menonton cukup banyak film untuk menerka-nerka apa yang akan terjadi dan tidak terlalu sakit hati akan hal tersebut. Tapi novel ini, novel tua yang dibuat 25 tahun yang lalu ini, mengejutkan saya dengan caranya yang, yah… mengejutkan dan meninggalkan sebuah rasa yang aneh setelah saya membaca kalimat terakhir di buku ini.

Saya yakin sekali kalimat saya tidak akan bisa dimengerti kalau kalian belum baca bukunya sendiri, maaf.

Saya akan mencoba sebaik mungkin untuk menggambarkan pengalaman saya ini kalau begitu. Orson Scott Card, pengarang Ender’s Game, memulai ceritanya dengan mempersembahkan sebuah karakter sempurna. Ender. Seorang jenius, berhati lembut, muda dan dibutuhkan manusia. Kakaknya, Peter, adalah sociopath, kesenangannya adalah menyiksa Ender dan Valentine, berulang kali mengancam akan membunuh mereka, dan sama jeniusnya dengan Ender. Kakak keduanya Valentine, adalah gadis yang terlalu baik hati, memiliki keahlian di bidang persuasi dan tulisan, tentu sama jeniusnya dengan Ender. International Fleet dulu mengira mereka bisa menggunakan Peter sebagai calon Battle Commander terbaik mereka, sebelum Valentine dan Ender lahir. Peter terlalu kejam, lalu mereka menyuruh kedua orangtua Peter untuk melahirkan Valentine, siapa tahu dia lebih cocok. Valentine terlalu lembut, dan mereka lalu menyuruh kedua orangtua Valentine untuk melahirkan anak KETIGA (di masa ini populasi membludak dan memiliki lebih dari dua anak merupakan sebuah hinaan dan beban,) siapa tahu dia lebih cocok.

Ender memang cocok. Inti yang diajarkan di Battle School terletak pada Game-Game mereka, dimana Ender harus bergabung (dan lalu) memimpin sebuah army untuk melawan siswa lain di ruang tak bergravitasi dengan senjata yang dapat membekukan tubuh mereka secara temporer. Dia dilatih terlalu keras di Battle School, selalu dinaikkan pangkatnya lebih awal dari seharusnya, ditekan oleh para gurunya lewat cara-cara yang begitu tersembunyi sehingga Ender selalu ada di ujung batasnya, diisolasi, ditempa dan dibentuk. Ender selalu bertahan menjadi yang terbaik. Sering dengan cara yang menyakitkan. Selalu sasarannya adalah agar Ender dapat mengeluarkan seluruh potensinya. Untuk mencari kunci yang dapat menghapuskan Bugger untuk selama-lamanya. Banyak hal yang saya sulit bayangkan dilakukan pada Ender di buku ini. Bukan hal-hal mengerikan secara fisik, tapi sesuatu yang lebih mendalam, yang dapat membuat seseorang lupa siapa dirinya dan akan jadi apa dia tanpa rasa sakit, membuat memori yang statis dan cintanya kepada Valentine sebagai satu-satunya tempat dia bisa melarikan diri, dan bahkan hal itu pun dgunakan untuk melukai Ender lebih total lagi.

Di saat Ender sedang berada di luar angkasa, Peter ternyata ditulis bukan hanya sebagai sociopath tapi sebagai megalomaniac. Dia mengaku pada Valentine bahwa dia dapat memimpin dunia untuk membuatnya menjadi tempat yang lebih baik, karena dia sadar akan keadaan ketiga pemimpin dunia yang labil dan dapat berperang kapan saja setelah para Bugger teratasi dan dunia internasional tidak tahan lagi bersatu. Tapi dia membutuhkan tenaga Valentine untuk itu. Mereka mulai mengumpulkan kekuatan politik dengan cara-cara yang hanya bisa digunakan lewat internet, yaitu opini. Jangan lupa mereka memiliki otak yang superior. Mereka menulis esai-esai politik dan komentar terhadap situasi sosial, dengan Valentine mengambil nickname Demosthenes dan Peter menggunakan Locke, dua karakter yang pola pikirnya sangat bertentangan dengan sifat asli Peter dan Valentine.

Saran saya upakan hal-hal humanis ketika memposisikan diri membaca novel ini. Atau, keluarkan semua nilai-nilai moral yang Anda punya untuk membandingkan aspek-aspek yang ditulis dengan apa yang Anda pikir seharusnya terjadi. Gaya bahasa Orson Scott Card yang begitu langsung kepada tempanya dan sering dikritik oleh banyak orang, sejujurnya, begitu saya nikmati. Bisa jadi karena saya sedang muak dengan novel-novel yang berjuang keras mengharumkan buku mereka dengan kata-kata yang indah dan ambigu tapi ber-plot begitu tumpul, atau bisa jadi karena imajinasi kita dituntut lebih keras untuk membayangkan emosi yang ada, hal-hal yang tak terkatakan, dan asumsi logis akan yang sedang terjadi. Entah mengapa (saya sudah tahu banyak orang yang tidak sejutu) saya merasa penulisan Card begitu cocok dengan atmosfir buku ini. Seperti megafon yang berteriak:

INILAH YANG TERJADI. INI KONSEKUENSINYA. KALAU TIDAK BEGINI YA BEGITU. TAK ADA PILIHAN LAIN. ADA PILIHAN DAN SAYA MEMILIHNYA. KALAU IYA ADALAH IYA, TIDAK ADALAH TIDAK.

Manis sekali. Terlebih kita tahu di negara tempat saya tinggal ini begitu banyak omong kosong sehingga kebenaran terasa lebih manis daripada yang seharusnya.

Lanjut. Karena kemungkinan besar pembaca tulisan ini tidak akan membaca bukunya, saya akan bicara soal ending ceritanya. Jadi, Ender berhasil. Setelah diluluskan prematur dari Battle School dan dibawa ke Command School (sekolah bagi para calon Battle Commander,) dia ditipu untuk menghancurkan planet rumah para Bugger dimana tutornya mengatakan itu semua cuma Game. Permainan. Padahal itu tidak. Teman-temannya yang ia pimpin lewat ‘Game’ itu ternyata benar-benar mengadu pesawat di suatu tempat di galaksi nun jauh di sana. Setelah semuanya selesai barulah Ender sadar bahwa dia sudah mengorbankan begitu banyak pilot pesawat di taktik-taktik game yang dia buat, membunuh jutaan alien yang berpikiran dan berperasaan, menghapus total satu ras dari galaksi. Dalam sakit hatinya dia tertidur dan bangun dan menunggu. Bumi akhirnya jatuh dalam perang seperti yang Peter ramalkan, setelah ancaman Bugger lenyap. Nama Ender Wiggin melegenda di Bumi tapi dia tak bisa pulang, keterampilannya akan terus dicoba digunakan oleh salah semua pihak untuk menguntungkan mereka. Jadi Valentine menghampiri Ender di luar angkasa, membujuknya untuk pergi bersama koloni Bumi untuk menempati mantan rumah para Bugger. Ender setuju. Dan di situlah ia menemukan sebuah tempat yang betul-betul mirip dengan mimpi-mimpinya, menemukan bagaimana para Bugger berusaha terus berkomunikasi dengannya lewat mimpinya untuk berkata bahwa Bugger memaafkan manusia juga meminta manusia memaafkan mereka, dan menemukan satu telur Ratu para Bugger yang dapat menjadi harapan untuk repopulasi para Bugger.

Maka Ender dan Valentine pun berpergian dari plante ke planet untuk mencari tempat bagi Ratu Bugger tersebut untuk terbangun dari pupanya.

Akhir dari buku.

Begitulah. Masih ada rentetan lanjutan dari cerita ini yang harus saya baca, jadi apa boleh buat saya harus stop disini. Tapi seenggaknya saya mengerti kenapa teman-teman forum saya begitu menyukai buku ini. Bukan tipe buku yang bisa digemari seperti Twilight (saya nggak suka Twilight series,) tapi lebih seperti sesuatu yang dibawa ke hati dan menempel di sana. Kata-kata yang begitu nyata dan sederhana, alur cerita yang sama sekali tidak berusaha membuat kita ngeri atau tegang atau sedih, tetapi kitanya sendiri yang bereaksi terhadapnya, sebuah pengalaman yang sangat berbeda.

Saya suka sekali.

Dan saya bersyukur saya masih punya sisa kewarasan untuk menulis komentar sepanjang ini. Sekali lagi buku ini ditulis tahun 1985, Perang Dingin belum berakhir, dan saya sayangnya tidak punya kesempatan membaca versi revisi tahun 1991 yang situasi politiknya sudah berubah. Tapi tak apa.Tak mengurangi pujian bagi buku ini yang mampu menarik saya begitu jauh dari apa yang biasa saya baca sehari-hari.

*Menghela napas*

Oh iya, Di chapter pertama, Ender berusia 6 tahun, Valentine 8 dan Peter 10. Ender berhasil menghancurkan Bugger pada umur hampir 12 tahun. Dia pergi menemukan tempat bagi Ratu Bugger yang baru pada umur 23 tahun. Baca saja bukunya kalau mau benar-benar mengerti kenapa hal itu bisa terjadi πŸ™‚ Saya dengan senang hati akan memberikan satu kopi pada yang meminta.

Permalink 23 Komentar