Howl’s Moving Castle (Istana yang Bergerak) – Versi Buku

September 11, 2010 at 2:52 am (Buku) (, , , , , , )

Highlight pertama:

TERJEMAHANNYA JELEK.


Jelek sekali. Hiks.

Saya tahu buku ini sudah terbit dari beberapa waktu yang lalu, tapi baru kemarin sempat membeli dan membacanya. Terdorong keingintahuan karena baru-baru ini saya menonton ulang versi animenya yang lagi-lagi dikerjakan oleh Studio Ghibli. Sayangnya di buku ini, jelas sekali si penerjemah kurang pengalaman dalam menerjemahkan. Di paragraf-paragraf terntentu saya bisa merasakan kalau dia mulai malas dengan kerjaannya dan mengartikan asal saja, terlalu harfiah, nggak berusaha merangkai kata yang dapat dipahami pembaca Indonesia tanpa melenyapkan kekhasan gaya bahasa Inggris. Ia juga nggak bisa menyampaikan emosi-emosi yang terselubung dalam berbagai kalimat tertentu yang saya yakin seharusnya memberikan dampak kuat bagi para pembaca dalam bahasa aslinya. Jadi dengan sukses dia menyulap adegan lucu jadi hambar, kalimat-kalimat cerdas jadi kumpulan kata tanpa arti dan plot cerita jadi nggak jelas juntrungannya ke mana. Saya kesal dan kecewa.

Dan saya yakin akan penilaian saya ini bahkan sebelum saya membaca yang versi aslinya. Kenapa?

Diana Wynne Jones sendiri sebagai sang pengarang sangat dihormati dan diakui di negara asalnya, jadi saya yakin ketidaknyamanan membaca saya kebanyakan adalah salah sang penerjemah. Dan bahkan dengan terjemahan seburuk itu saya masih bisa mengatakan bahwa buku ini sangat menghibur dan menyenangkan untuk dibaca.

Plotnya jauh berbeda dengan film, tapi kedua versi sama bagusnya. Karakter-karakter versi film ternyata banyak yang diubah penampilannya, seperti Sophie, Witch of the Waste, Michael (jadi Markl di film,) dan Suliman. Disini juga jumlah karakter yang memainkan peran masing-masing ada lebih banyak.

Hal yang membuat saya suka pada buku ini adalah keunikan cerita dan twist-twistnya. Walaupun termasuk bacaan ringan, saya tahan juga nggak meletakkan buku ini sebelum halaman terakhir. Keputusan Jones untuk nggak menjelaskan beberapa hal krusial dalam bukunya (seperti deskripsi total tentang cara sihir bekerja dan cara Howl berpindah antar dunia,) juga merpakan hal yang baik menurut saya. Hal itu membuat kita nggak hilang arah dari cerita utamanya, dan meninggalkan beberapa bagian cerita untuk kita imajinasikan sendiri, meskipun saya akan lebih senang kalau hal-hal tersebut ia jelaskan. Twistnya mengagetkan dan datang di saat yang tepat. Sudah lama saya nggak membaca buku dengan twist pintar seperti ini, jadi saya senang juga.

Jones juga piawai dalam menggambarkan keunikan sifat para karakternya dan menyusun puzzle yang petunjuknya ia jatuhkan di kalimat-kalimat tertentu (tentu saja semuanya dikacaukan dengan jasa sang penerjemah yang nggak berusaha terlalu keras untuk memahami isi cerita ini.) Ide-ide kreatif bertebaran dimana-mana. Saya rekomendasikan ke siapa saja yang suka fantasi, tapi BACA BAHASA ASLINYA SAJA.

Rating: 8/10

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Earthsea Cycle – A Wizard of Earthsea

September 9, 2010 at 2:20 am (Buku) (, , , , , )

Fuwaaaah…. istirahat dulu dari realm science fiction dan kembali singgah ke dunia fiksi yang memenuhi masa kecil saya: epic fantasy.
Liburan kuliah yang menyenangkan ini memungkinkan saya memakai waktu berleha-leha untuk mencari film-film bagus yang tersebar di seantero internet. Dan saya memanfaatkan kesempatan emas ini untuk megecek perkembangan salah satu studio animasi terbaik yang saya ketahui: Studi Ghibli. Saya ingat saya belum sempat menonton Tales from Earthsea yang mereka produksi baru-baru ini. Film ini diadaptasi dari serangkaian buku Earthsea Cycle karangan Ursula K. LeGuin, terbitan tahun 60-an, salah satu seri buku Epic Fantasy yang paling digemari dan paling banyak diberi penghargaan di luar sana.

Variasi cover buku A Wizard of Earthsea, buku pertama Earthsea Cycle

Setelah menonton Tales from Earthsea dan menyadari bahwa banyak yang kecewa dengan film ini karena nggak berhasil menggambarkan atmosfir yang sama seperti yang diciptakan oleh bukunya, saya lalu tergelitik untuk mencari tahu aslinya itu emang seperti apa. Saya pun menelusuri dunia maya tanpa hasil, berniat menyerah dan beralih ke buku-buku karya LeGuin lainnya ketika pada suatu hari yang membahagiakan, mama saya mengajak saya ke Gramedia dan disana saya menemukan versi Indonesianya. Hah!


Saya memelas dengan sepenuh hati minta dibelikan dan memang dibelikan. Benar deh, saya bahagia. Nggak menyangka masih ada peluang bagi buku-buku tua seperti Earthsea Cycle untuk dilirik penerbit Indonesia. Yah, dengan pengalaman diterjemahkannya Narnia dan Three Kingdoms dan buku tua lainnya seenggaknya harapan saya masih tinggi bahwa buku bagus akan menemukan jalannya ke para pembaca…

Lanjut. Buku ini bercerita tentang Sparrowhawk yang bernama Sejati Ged, seorang anak yang dilahirkan tanpa mengetahui bahwa dirinya memiliki kekuatan sihir yang sangat dahsyat. Setting ceritanya adalah Earthsea, dunia datar dimana sihir merupakan hal yang umum, benda-benda dan bintang-bintang memiliki setiap nama Sejati yang hanya diketahui penyihir-penyihir kuat untuk dikendalikan, dan makhluk-makhluk magis berkeliaran dimana-mana. Yah, kombinasikanlah Lord of the Rings, Harry Potter, dan berbagai macam fiksi barat lainnya yang Anda ketahui untuk bisa membayangkan dunia ini. Bahkan LeGuin juga mendedikasikan waktunya untuk mereka sebuah peta Earthsea yang menjadi acuan pembaca selama perjalanan Ged berlangsung, yang selalu saya lirik berkali-kali agar tidak kehilangan arah.

Sparrowhawk akhirnya diperkenalkan ke dunia sihir dan sampai ke sekolah sihir terhebat di Earthsea, terletak di Roke. Setelah lulus dan mendapatkan statusnya sebagai penyihir, dia pun berkeliling dunia. Inti dari perjalanan Sparrowhawk adalah menemukan kembali makhluk kegelapan yang telah dilepaskannya semasa dia masih bersekolah dan memusnahkannya karena makhluk itu membawa bahaya besar bagi dirinya dan orang lain seandainya makhluk itu sampai mengalahkannya. Kalau saya ringkaskan begini kedengarannya begitu sederhana, tapi saya kaget sendiri akan kuatnya dunia Earthsea menyerap perhatian saya. Gaya bahasa LeGuin tidak mengeksplotasi dialog antar-karakter (mungkin seperti inilah semua gaya bahasa buku-buku tua,) lebih ke arah deskriptif dan kontemplatif. Saya juga mengakui kalau terjemahan bahasa Indonesianya termasuk baik sekali, rasa puitisnya tidak hilang walau tentu sang penerjemah pasti kesal dengan terbatasnya kosakata bahasa Indonesia dalam mendeskripsikan segala sesuatu (sebagai sesama penerjemah seenggaknya saya juga sudah tahu rasanya :p).  LeGuin juga menulis dengan cara yang sangat meyakinkan, setiap kalimat yang ia sampaikan hanya menyiratkan seberapa dalam pengetahuannya akan dunia rekaannya ini, seberapa lama ia sudah memikirkan segala detil dan hal-hal kecil yang ada. Nama-nama daerah, karakteristik penduduk, legenda-legenda lokal, tragedi, festival, penggambaran laut, daratan dan bintang, cara sihir digunakan, semua itu dibangun begitu kokoh. Jelas ia penulis yang penuh rencana dan imajinasi, dan sebagai pembaca mau tak mau saya dibuat takjub akan kepiawaiannya ini.

Selain gaya, tema yang diangkat juga begitu menarik hati. Mengejar bayangan sendiri yang diciptakan dari bagian hati yang tergelap. Sang bayangan memburu Sparrowhawk selama bertahun-tahun ia hidup, setiap kali bertemu dengan makhluk itu ia terpaksa lari karena sang bayangan mengetahui nama Sejatinya dan terus memaksa Sparrowhawk kabur darinya. Hanya setelah ia memberanikan diri untuk berbalik dan menjadi pemburu bagi si bayangan itu sendiri alih-alih diburu, barulah ia dapat bebas dari cengkeramannya. Sangat cocok dengan kisah hidup begitu banyak manusia di dunia yang jauh berbeda ini. Kita seringkali hanya bisa lari dari kesalahan terbesar kita tanpa berani menoleh ke belakang dan berbalik mengejar dia, memandangnya mata-ke-mata dan menerimanya sebagai bagian dari diri kita, sama seperti Ged yang akhirnya bersatu dengan bayangannya. Sesuai dengan pepatah tiada kata tanpa kesunyian, terang tanpa gelap, yin yang, putih hitam, semacam itu.

Ide-ide filosofis yang tersebar di halaman-halaman ini juga membuat saya rindu akan suatu hal yang saya tidak tahu apa. Kalimat-kalimat yang dapat diartikan secara harfiah di novel ini hanya bisa menjadi alegori bagi dunia nyata. Memang buku itu pelarian yang menyenangkan, tapi tetap sebuah pelarian. Kita yang lahir di Bumi ini harus tunduk pada aturan Bumi yang lebih kuat daripada kita. Yah, yasudahlah.

Dalam satu buku yang termasuk pendek ini (hanya 334 halaman dalam bahasa Indonesia,) LeGuin sudah memperingatkan bahwa masih ada banyak sekali untuk diceritakan di buku-buku lainnya. Sparrowhawk sendiri sudah dikatakan akan meniti jalan menjadi Archmage, penyihir terkuat di Earthsea, tapi dengan memberitahu hal ini LeGuin menekankan bahwa yang penting untuk dikisahkan adala prosesnya. Saya setuju, dan saya menantikan dengan sangat lanjutan terjemahan buku Earthsea Cycle lainnya.

Rating: 9/10

Permalink 2 Komentar

Shadow Quartet

September 7, 2010 at 9:35 am (Buku) (, , , , , , , )

Yeeppp. Lagi-lagi nggak tahan buat nggak ngoceh setelah baca buku. Ayo kita mulai dengan Shadow Quartet dulu. Lanjutan Ender’s Game yang berfokus pada teman-teman Ender.

Oke. Pertama Ender’s Shadow, semacam parallel novel yang settingnya persis sama dengan Ender’s Game cuma dilihat dari perspektif Bean. Siapa Bean itu? Seorang anak bertubuh sangat kecil yang lahir dari percobaan genetik yang memungkinkan dia menjadi orang terpintar di Bumi dengan ongkos umur pendek akibat dia akan terus bertumbuh menjadi raksasa karena otaknya juga tak berhenti bertumbuh. Disini diceritakan jalan hidup Bean sejak dia kecil, kesusahannya jadi anak jalanan di Rotterdam setelah lari dari laboratorium tempat ia dibuahi secara in-vitro dan dirawat semasa bayi, pertemuannya dengan Achilles, Poke dan Suster Carlotta, dan ke Battle School. Disanalah dia bertemu dengan Ender dan di-klaim menjadi backup atau plan B seandainya Ender gagal menyelamatkan para manusia dari Bugger. Dan di buku ini pula kita diperkenalkan dengan istilah Ender’s Jeesh (jeesh adalah bahasa Arabnya laskar,) yang berarti  anak-anak yang ikut bergabung membantu Ender di pertarungan terakhir mereka di Command School yang berakibat musnahnya ras Bugger.

Buku ini juga cukup luar biasa walaupun untuk saya Ender’s Game masih nomor satu. Card menggambarkan karakteristik Bean si jenius dengan sangat meyakinkan, meletakkan posisinya sebagai pembuat strategi yang sebenarnya lebih baik daripada Ender. Bean bisa menganalisis suatu kasus dari data yang begitu sedikit, mengetahui tujuan sebuah aksi dan menebak berbagai hal yang Ender sendiri tidak pernah tahu hanya atas dasar logika. Tapi biarpun Bean jauh lebih pintar daripada Ender, Card juga berhasil menyampaikan pesan bahwa Ender lebih superior dalam kepemimpinan dan pemahaman watak manusia dimana hal itulah yang dibutuhkan oleh seorang Battle Commander. Fokus Bean saat itu adalah bertahan hidup, dibayangi trauma masa kecilnya yang begitu menyedihkan di jalanan Rotterdam sehingga ia tidak sehangat Ender, tidak bisa membuat orang menyukai dirinya seperti Ender, membuat semua temannya begitu loyal dan berani mati demi dirinya. Ending buku ini lebih happy daripada Ender’s Game karena Bean akirnya menemukan orangtua aslinya di Bumi dan saudara kandungnya di Battle School.

Lanjut ke ketiga buku Shadow selanjutnya. Shadow of the Hegemon, Shadow Puppets dan Shadow of the Giant adalah kumpulan drama politik dengan setting yang dibuat sekaya mungkin, penuh dengan referensi sejarah dan taktitk militer. Atmosfirnya jauuuh sekali beda dengan kedua buku sebelumnya. Inti cerita sekarang adalah kisah hidup para anggota Ender’s Jeesh dan lulusan Battle School lain di Bumi setelah para Bugger tiada. Karena Ender tidak diperbolehkan pulang ke Bumi, merekalah tokoh-tokoh kunci yang berperan penting membentuk sistem pemerintahan dan memainkan perang-perang besar di Bumi. Karakter yang paling dikembangkan disini adalah tentu Bean (yang akhirnya diketahui bernama asli Julian Delphiki,) Petra Arkanian, salah satu anggota Ender’s Jeesh, Achilles si tokoh jahat dari masa kecil Bean, Peter Wiggin kakak Ender yang berupaya menyatukan dunia, orangtua Ender John Paul dan Theresa Wiggin, Han Tzu dan Alai, anggota Ender’s Jeesh juga, serta beberapa karakter lain seperti Virlomi (India) dan Suriyawong (Thailand), lulusan Battle School.

Jujur, dibandingkan dengan Ender’s Game dan Ender’s Shadow dimana setting ceritanya masih di sekitar luar angkasa, saya malah makin sulit mencerna ketiga buku terakhir ini. Padahal saya anak Hubungan Internasional, yang harusnya makan drama politik tiap hari. Card memang terbukti ahli dalam bidangnya, dia mengerti sekali tabiat para pemimpin besar di masa lalu, tahu arah sejarah kontemporer, dan berani mengaplikasikannya ke dalam sebuah tatanan dunia yang ia ciptakan sendiri. Mendengar kalimat-kalimat seperti ‘India memiliki populasi terbesar di dunia,’ ‘Amerika menarik diri dari pergolakan militer dunia karena tidak pernah melihat aksinya membuahkan sesuatu selain cercaan dan sakit hati,’ ‘Eropa adalah kumpulan negara tua yang lelah dan ketinggalan jaman,’ merefleksikan ramalan pribadinya terhadap dunia masa depan setelah dipaksa bersatu untuk merespon ancaman alien dan akhirnya pecah lagi setelah ancaman tersebut terhapuskan.

Pengembangan karaternya cukup baik, dari Bean yang makin lama makin jatuh hati dengan Petra lalu menikahinya, Peter yang dengan dukungan orangtuanya akhirnya membentuk Free People of Earth (semacam PBB) dan dikenang sebagai salah satu orang paling baik dan berpengaruh sepanjang masa walaupun di masa kecil dia kasar sekali terhadap Ender dan Valentine, Virlomi yang mulai terkena delusi bahwa dia terlahir sebagai Dewi pembimbing India, Han Tzu yang naik ke tahta Emperor Cina, Alai yang dimahkotai sebagai Khalifah umat Muslim di penjuru dunia, sampai Achilles yang menemukan bakat asli dan iblis dalam dirinya untuk menjadi tokoh antagonis utama di ketiga buku ini.

Tapi tetap saja saya kesulitan membawa buku ini ke hati.

Dialog-dialog yang Card bawakan tetap tajam seperti biasa, sayangnya sering semua karakter terkesan seperti bicara dan berpikir dalam satu suara. Para lulusan Battle School dan anggota-anggota Ender’s Jeesh ini saking pintarnya mereka bisa melihat dua-tiga langkah ke depan dan menebak semua sebab-akibat dengan benar. Betapa membosankan dan monoton, saya kira. Analisis Bean yang terlalu dieksploitasi, penjabaran tentang manuver politik seperti “negara apa lawan negara apa, kenapa bisa begitu, apa konsekuensinya dan bagaimana cara kita berperang” terlalu didiktekan seperti buku pelajaran formal. Adegan-adegan yang seharusnya membangkitkan emosi tidak bisa mengulurkan tangan dan mencapai hati saya lagi karena saya terlalu lelah memproses semua detail yang ada.

Dalam peta mental saya, dari buku Ender’s Game, cabang Shadownya makin lama kualitasnya makin menurun kecuali Ender’s Shadow. Bukan berarti ketiga buku ini total tak perlu dibaca, bukan. Saya akan tetap merekomendasikannya bagi siapa saja yang ingin mencari buku bagus, tapi kalau rasa suka Anda dan keinginan Anda untuk setia pada serial ini tidak terlalu besar, mungkin Anda akan lebih kelelahan daripada saya. Mengecek angka halaman setiap kali untuk mengira-ngira kapan halaman terakhir tiba.

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Ender’s Game

Agustus 17, 2010 at 11:01 pm (Buku)

Apalah artinya saya review buku ini? Demi melancarkan sistem tubuh saya saja rasanya. Daripada saya teriak-teriak kayak orang gila, lebih baik saya menulis nggak tentu arah.

Ender's Game cover 1985

Ender's Game cover

Ender's Game E-book Cover by Sam Weber

Ender's Game E-book Cover

Iya, iya saya tau ini buku tua, terbitnya saja 1985. Dan saya bahkan nggak yakin orang Indonesia familiar sama buku yang menurut saya sangat menangkap hati ini. Memang versi bahasa Indonesianya setahu saya tidak pernah diterbitkan.

Saya sendiri pertama mendengar soal buku ini saat sedang berlalu-lalang di thread ‘Recommended Books’ di salah satu forum yang anggota-anggotanya sangat saya hormati. Banyak sekali yang menyodorkan buku ini sebagai daftar teratas buku favorit mereka. Dan setelah PENCARIAN KERAS (yah, nggak keras-keras amat sih kalau tahu caranya 😉 haha) saya akhirnya bisa menemukan buku ini dalam versi yang lebih ‘overseas-people-friendly’ tebak saja deh versi apa itu.

Tokoh utama buku ini, Andrew Wiggin (selalu disebut Ender), anak ketiga bersaudara Peter Wiggin (tertua) dan Valentine Wiggin, akhirnya diajak oleh Kolonel Graff dari International Fleet, pasukan militer saat itu, untuk berlatih di Battle School luar angkasa dan menjadi calon terkuat Battle Commander manusia untuk menumpas para Bugger, alien yang dianggap akan menghancurkan umat manusia. Dunia sudah jauh di masa depan dimana pesawat tempur antariksa sudah dibutuhkan, komunikasi tanpa batas ruang dan waktu sudah tercipta (lewat alat yang disebut ansible,) dan pemerintahan dunia terbagi tiga: Strategos, Polemarch dan Hegemon. Para Bugger sudah menginvasi dunia dua kali, dan manusia mewanti-wanti invasi ketiga. Tujuan utama yang dibuat bagi Ender adalah agar ia dapat memimpin pasukan manusia mendatangi planet rumah para Bugger dan menyerang mereka di sana.

Nah.

Dalam inti cerita yang kalau saya ringkaskan terkesan simpel dan monoton ini, ada begitu banyak hal yang saya pelajari. Banyak sekali adegan yang tak disangka-sangka bisa meremas hati saya begitu keras padahal saya kira saya sudah membaca cukup banyak buku dan menonton cukup banyak film untuk menerka-nerka apa yang akan terjadi dan tidak terlalu sakit hati akan hal tersebut. Tapi novel ini, novel tua yang dibuat 25 tahun yang lalu ini, mengejutkan saya dengan caranya yang, yah… mengejutkan dan meninggalkan sebuah rasa yang aneh setelah saya membaca kalimat terakhir di buku ini.

Saya yakin sekali kalimat saya tidak akan bisa dimengerti kalau kalian belum baca bukunya sendiri, maaf.

Saya akan mencoba sebaik mungkin untuk menggambarkan pengalaman saya ini kalau begitu. Orson Scott Card, pengarang Ender’s Game, memulai ceritanya dengan mempersembahkan sebuah karakter sempurna. Ender. Seorang jenius, berhati lembut, muda dan dibutuhkan manusia. Kakaknya, Peter, adalah sociopath, kesenangannya adalah menyiksa Ender dan Valentine, berulang kali mengancam akan membunuh mereka, dan sama jeniusnya dengan Ender. Kakak keduanya Valentine, adalah gadis yang terlalu baik hati, memiliki keahlian di bidang persuasi dan tulisan, tentu sama jeniusnya dengan Ender. International Fleet dulu mengira mereka bisa menggunakan Peter sebagai calon Battle Commander terbaik mereka, sebelum Valentine dan Ender lahir. Peter terlalu kejam, lalu mereka menyuruh kedua orangtua Peter untuk melahirkan Valentine, siapa tahu dia lebih cocok. Valentine terlalu lembut, dan mereka lalu menyuruh kedua orangtua Valentine untuk melahirkan anak KETIGA (di masa ini populasi membludak dan memiliki lebih dari dua anak merupakan sebuah hinaan dan beban,) siapa tahu dia lebih cocok.

Ender memang cocok. Inti yang diajarkan di Battle School terletak pada Game-Game mereka, dimana Ender harus bergabung (dan lalu) memimpin sebuah army untuk melawan siswa lain di ruang tak bergravitasi dengan senjata yang dapat membekukan tubuh mereka secara temporer. Dia dilatih terlalu keras di Battle School, selalu dinaikkan pangkatnya lebih awal dari seharusnya, ditekan oleh para gurunya lewat cara-cara yang begitu tersembunyi sehingga Ender selalu ada di ujung batasnya, diisolasi, ditempa dan dibentuk. Ender selalu bertahan menjadi yang terbaik. Sering dengan cara yang menyakitkan. Selalu sasarannya adalah agar Ender dapat mengeluarkan seluruh potensinya. Untuk mencari kunci yang dapat menghapuskan Bugger untuk selama-lamanya. Banyak hal yang saya sulit bayangkan dilakukan pada Ender di buku ini. Bukan hal-hal mengerikan secara fisik, tapi sesuatu yang lebih mendalam, yang dapat membuat seseorang lupa siapa dirinya dan akan jadi apa dia tanpa rasa sakit, membuat memori yang statis dan cintanya kepada Valentine sebagai satu-satunya tempat dia bisa melarikan diri, dan bahkan hal itu pun dgunakan untuk melukai Ender lebih total lagi.

Di saat Ender sedang berada di luar angkasa, Peter ternyata ditulis bukan hanya sebagai sociopath tapi sebagai megalomaniac. Dia mengaku pada Valentine bahwa dia dapat memimpin dunia untuk membuatnya menjadi tempat yang lebih baik, karena dia sadar akan keadaan ketiga pemimpin dunia yang labil dan dapat berperang kapan saja setelah para Bugger teratasi dan dunia internasional tidak tahan lagi bersatu. Tapi dia membutuhkan tenaga Valentine untuk itu. Mereka mulai mengumpulkan kekuatan politik dengan cara-cara yang hanya bisa digunakan lewat internet, yaitu opini. Jangan lupa mereka memiliki otak yang superior. Mereka menulis esai-esai politik dan komentar terhadap situasi sosial, dengan Valentine mengambil nickname Demosthenes dan Peter menggunakan Locke, dua karakter yang pola pikirnya sangat bertentangan dengan sifat asli Peter dan Valentine.

Saran saya upakan hal-hal humanis ketika memposisikan diri membaca novel ini. Atau, keluarkan semua nilai-nilai moral yang Anda punya untuk membandingkan aspek-aspek yang ditulis dengan apa yang Anda pikir seharusnya terjadi. Gaya bahasa Orson Scott Card yang begitu langsung kepada tempanya dan sering dikritik oleh banyak orang, sejujurnya, begitu saya nikmati. Bisa jadi karena saya sedang muak dengan novel-novel yang berjuang keras mengharumkan buku mereka dengan kata-kata yang indah dan ambigu tapi ber-plot begitu tumpul, atau bisa jadi karena imajinasi kita dituntut lebih keras untuk membayangkan emosi yang ada, hal-hal yang tak terkatakan, dan asumsi logis akan yang sedang terjadi. Entah mengapa (saya sudah tahu banyak orang yang tidak sejutu) saya merasa penulisan Card begitu cocok dengan atmosfir buku ini. Seperti megafon yang berteriak:

INILAH YANG TERJADI. INI KONSEKUENSINYA. KALAU TIDAK BEGINI YA BEGITU. TAK ADA PILIHAN LAIN. ADA PILIHAN DAN SAYA MEMILIHNYA. KALAU IYA ADALAH IYA, TIDAK ADALAH TIDAK.

Manis sekali. Terlebih kita tahu di negara tempat saya tinggal ini begitu banyak omong kosong sehingga kebenaran terasa lebih manis daripada yang seharusnya.

Lanjut. Karena kemungkinan besar pembaca tulisan ini tidak akan membaca bukunya, saya akan bicara soal ending ceritanya. Jadi, Ender berhasil. Setelah diluluskan prematur dari Battle School dan dibawa ke Command School (sekolah bagi para calon Battle Commander,) dia ditipu untuk menghancurkan planet rumah para Bugger dimana tutornya mengatakan itu semua cuma Game. Permainan. Padahal itu tidak. Teman-temannya yang ia pimpin lewat ‘Game’ itu ternyata benar-benar mengadu pesawat di suatu tempat di galaksi nun jauh di sana. Setelah semuanya selesai barulah Ender sadar bahwa dia sudah mengorbankan begitu banyak pilot pesawat di taktik-taktik game yang dia buat, membunuh jutaan alien yang berpikiran dan berperasaan, menghapus total satu ras dari galaksi. Dalam sakit hatinya dia tertidur dan bangun dan menunggu. Bumi akhirnya jatuh dalam perang seperti yang Peter ramalkan, setelah ancaman Bugger lenyap. Nama Ender Wiggin melegenda di Bumi tapi dia tak bisa pulang, keterampilannya akan terus dicoba digunakan oleh salah semua pihak untuk menguntungkan mereka. Jadi Valentine menghampiri Ender di luar angkasa, membujuknya untuk pergi bersama koloni Bumi untuk menempati mantan rumah para Bugger. Ender setuju. Dan di situlah ia menemukan sebuah tempat yang betul-betul mirip dengan mimpi-mimpinya, menemukan bagaimana para Bugger berusaha terus berkomunikasi dengannya lewat mimpinya untuk berkata bahwa Bugger memaafkan manusia juga meminta manusia memaafkan mereka, dan menemukan satu telur Ratu para Bugger yang dapat menjadi harapan untuk repopulasi para Bugger.

Maka Ender dan Valentine pun berpergian dari plante ke planet untuk mencari tempat bagi Ratu Bugger tersebut untuk terbangun dari pupanya.

Akhir dari buku.

Begitulah. Masih ada rentetan lanjutan dari cerita ini yang harus saya baca, jadi apa boleh buat saya harus stop disini. Tapi seenggaknya saya mengerti kenapa teman-teman forum saya begitu menyukai buku ini. Bukan tipe buku yang bisa digemari seperti Twilight (saya nggak suka Twilight series,) tapi lebih seperti sesuatu yang dibawa ke hati dan menempel di sana. Kata-kata yang begitu nyata dan sederhana, alur cerita yang sama sekali tidak berusaha membuat kita ngeri atau tegang atau sedih, tetapi kitanya sendiri yang bereaksi terhadapnya, sebuah pengalaman yang sangat berbeda.

Saya suka sekali.

Dan saya bersyukur saya masih punya sisa kewarasan untuk menulis komentar sepanjang ini. Sekali lagi buku ini ditulis tahun 1985, Perang Dingin belum berakhir, dan saya sayangnya tidak punya kesempatan membaca versi revisi tahun 1991 yang situasi politiknya sudah berubah. Tapi tak apa.Tak mengurangi pujian bagi buku ini yang mampu menarik saya begitu jauh dari apa yang biasa saya baca sehari-hari.

*Menghela napas*

Oh iya, Di chapter pertama, Ender berusia 6 tahun, Valentine 8 dan Peter 10. Ender berhasil menghancurkan Bugger pada umur hampir 12 tahun. Dia pergi menemukan tempat bagi Ratu Bugger yang baru pada umur 23 tahun. Baca saja bukunya kalau mau benar-benar mengerti kenapa hal itu bisa terjadi 🙂 Saya dengan senang hati akan memberikan satu kopi pada yang meminta.

Permalink 23 Komentar

Movie! The Last Airbender

Agustus 7, 2010 at 2:22 am (Avatar: The Last Airbender) (, , , )

Astaga. AAASTAGAAA.

Oke, sebelum saya mulai menumpahkan apa-apa di blog ini, saya mau memberitahu beberapa fakta:

  • Saya sekarang sudah jadi penggemar serial TV Avatar The Last Airbender (TLA) selama lebih dari tiga tahun, saya gabung ke forum internasional TLA avatarspiritmedia.net tahun 2007 dan masih aktif sampai sekarang
  • Saking sukanya saya sama TLA, saya ikut kena euphoria Season 3 waktu itu, setiap episode baru keluar di AS sono, langsung saya download
  • TLA sudah punya tempat spesial di hati saya, dan hal itu nggak akan berubah, nggak peduli se’kurang-memuaskan’ apapun kualitas film live-actionnya.

Nah, sekarang ayo lanjut ngerumpiin film-live actionnya.

Movie-Yang-Namanya-Tak-Boleh-Disebut ato Kau-Tahu-Apa :p

*Tarik napas*

Sekali lagi: ASTAGA. Jujur, langsung setelah saya selesai membuang 6o ribu saya (buat saya dan adik) untuk menonton versi 3Dnya (yang saya ngga bisa rasakan wah-nya sama sekali soalnya mata saya rusak :p,) saya kecewa sangat. Sangat kecewa, kecewa sangat, pokoknya begitulah. Bolehlah CGI-nya lumayan, soundtracknya manis abis, beberapa adegan bending juga mantep. TAPI…

Pelafalan Nama Karakter

Banyak yang mengeluh soal Aang jadi Oooong (ugh), Iroh jadi Eeeroh, Sokka jadi Sah-ka dan sebagainya. M. Night Shyamalan (MNS saja biar ringkes) sebagai sutradara mengukuhkan kalau dia ingin membuat lafal karakternya secocok mungkin dengan pelafalan asli di Asia (memang sih, kalau pakai lidah Indonesia, pengucapan nama karakter di Movie!TLA itu tepat,) tapi sayangnya fandom TLA jengah dengan hal itu. Saya termasuk. Maksudnya begini, selama bertahun-tahun fandom sudah terbiasa dengan lafal Inggris nama karakter Series!TLA, kenapalah lagi harus diganti-ganti? Kalau mau dianalisa, dengan kualitas Movie!TLA yang se-mengecewakan itu, Shyamalan nggak mungkin berharap dia bakal bisa merubah pola pikir (dan cara pengucapan) seantero fandom TLA kan?

Pemeran dan Akting


Noah Ringer itu… cakep ya? Cocok jadi Aang (Ong :p)…. ya? Tapi jujur, aktingnya RUSAK. Kalau saya dan teman-teman forum mulai diskusi tentang dia, kami semua setuju dia punya potensial, tapi sama sekali nggak dipergunakan di film ini. Sebagian dari kami menyalahkan MNS karena ngga bisa menuntun aktinya secara benar, tapi sepertinya Ringer juga butuh lebih banyak pengalaman untuk bisa menjadi Aang yang baik dan benar. Karena seingat saya sama sekali nggak ada Aang di Movie!TLA kemarin…

Nicola Peltz sebagai Katara, Jackson Rathbone sebagai Sokka (Sahka :p). Soal mereka… beberapa waktu saya harus tercengang lemas melihat akting mereka di adegan-adegan yang seharusnya membangkitkan emosi, tapi malah menggelikan dan nggak meyakinkan, selevel sinetron-sinetron Indonesia yang menyayat akal sehat. Saya bahkan bisa ambil kesimpulan kalau semua akting yang disuguhkan oleh MNS di Movie!TLA ini OOC .Out of Character, yang berarti tidak sesuai dengan karakter aslinya. Yang paling mending menurut saya Dev Patel sebagai Zuko. Dia yang paling banyak pengalaman, dan paling bisa mengutarakan dialog-dialog tak berlogika dengan gaya yang nggak memalukan… *menghela napas*

Hanya sampai sekarang saya nggak mengerti apa yang ada di pikiran MNS waktu dia memilih pemain-pemaninnya. Saya bicara RAS sekarang. Dan saya sama sekali nggak ada maksud mau menyinggung ras manapun, tapi kenapa oh kenapa pemeran anggota Movie!GAaang (Gengnya Aang) semua berkulit putih? Dan para warga Fire Nation jadi ke India-India-an? Zhao tanpa brewoknya dan Ozai tanpa kumisnya kelihatan nggak berciri khas lagi menurut saya. Sayang sekali.

Script dan Plot

Ini, saudara-saudari sekalian, merupakan unsur YANG PALING DIKELUHKAN. Para fans TLA yang memakai sedikit nalar kalau berkomentar pasti mengerti kalau ada banyak sekali hal yang harus diubah dan diganti demi merangkum isi Season 1 jadi satu film, tapi kami semua nggak siap dengan kenyataan bahwa perangkumannya akan SEHANCUR itu. Aaaah teman-teman fans sejati TLA di Indonesia…. mengertikah kalian perasaan saya? Pemenjaraan Earthbenders di tempat YANG DIKELILINGI TANAH, Katara yang MENGAJAK AANG BICARA WAKTU DIA SEDANG BERMEDITASI, Firebenders yang HARUS MEMBAWA SUMBER API untuk bertarung…. astaga. Tuhan di Kerajaan Surga: ASTAGA.

…uff.

Dan saya masih belum komplain soal pemotongan adegan yang tergesa-gesa, dialog-dialog yang mungkin bakal lebih baik kalau dibuat anak SMA penggila TLA, adegan-adegan yang ngga sinkron, Avatar State yang nggak dijelaskan asal-muasalnya, bolak-baliknya Zhao ke Fire Nation cuma buat ngelapor ke Ozai (weleeeeh,) dan para Earthbender di adegan penjara yang harus melakukan dansa rumit sebelum menggerakkan batu sebesar bola sepak (uhuhu. Panggilan sayang buat adegan itu sekarang Pebble Dance, alias Dansa Kerikil.)

Yah, kalau ada dari kalian yang berniat menertawakan aspek-aspek Movie!TLA ini, tinggal ke forum-forum TLA aja, ato YouTube ‘reaction after watching The Last Airbender,’ ato kesini: http://community.livejournal.com/wtf_tla/2170.html#cutid1 Semua dalam bahasa Inggris pastinya, jadi saya nggak usah nulis yang aneh-aneh lagi disini, saya menulis hanya buat menegaskan luka hati para fans Indonesia :/

Yah, saya berdoa dengan sepenuh hati supaya sequelnya bukan Shyamalan lagi yang pegang. Kalau nggak ada sequel juga nggak masalah, biar nggak jadi onggokan budget dan CGI pengundang olok-olok kritik.

Lebih lagi Shyamalan punya ego sebesar bulan hingga sampai detik ini dia percaya dia sudah menciptakan KARYA BESAR.

Oh, astaga.

Shyamalan, jangan kau sentuh lagi TLA.

Saya mohon.

0_0

Bryan, Mike, sebagai pencipta TLA tolong lindungi karya kalian.

Aaaah

Aduuuh.

Aduh.

Permalink 3 Komentar

#31 – The Conspiracy – Konspirasi

Agustus 5, 2010 at 10:40 pm (Uncategorized)

AAAA JADIII JADIIIiiiII!!!11

Yah pokoknya begitulah. Special thanks buat Merfans yang udah ngebantu proofread. Buku ini emosional banget, banyak adengan dan kalimat-kalimat dramatisnya… Selamat membaca 🙂

Permalink 3 Komentar

K. A. Applegate Needs Your Help!

Juli 28, 2010 at 4:38 am (Uncategorized)

Teman-teman… setelah berabad-abad blog ini nggak saya update, sekarang saya ada info buat kalian semua. Info aslinya saya post dulu, terjemahannya ada di bawah. 🙂 Yang menulis di sini suaminya K.A. Apllegate, pengarang Animorphs.

Source: Richard’s Animorphs Forum, July 11th 2010

Katherine and I have some information we’d like to share, and a favor we’d like to ask.

Not sure if you’ve heard this yet but ANIMORPHS will be re-issued in spring/summer 2011.  That is definite and official.

An editor at Scholastic is combing the first two books for outdated references, sending suggested fixes, and asking us to approve. Which we’ve now done.

Scholastic will re-cover the books using something called a lenticular cover.  So far as we know it’s just the first 2 books, then I guess they’ll wait and see how sales go before issuing more.

Scholastic has asked us to prepare a small video to show at the sales meeting in early August.  We realized that the sales people probably don’t really know what ANIMORPHS has meant to so many people.  So we wondered whether RAF participants might be interested in sending us some brief video clips just saying what ANIMORPHS has meant to them. They could be extemporaneous, or they could read from some of the lovely letters they’ve sent over the years.  The only real guidance we have to offer is to make sure the audio is audible.  Use as high definition as you have available, but don’t sweat it if it doesn’t quite look like Avatar.  Sincerity is more important than technique.

If you’d post this letter that would be very helpful.

Please ask any who wish to participate to forward their video to jake-at-jakemates.com.

Thanks,

Michael and Katherine

TERJEMAHAN

Asal berita : Richard’s Animorphs Forum, 11 Juli 2010

Katherine dan saya punya satu info yang ingin kami bagikan, dan kami juga ingin meminta bantuan dari kalian semua.
Kami tidak yakin kalian sudah mendengar hal ini atau belum, tapi ANIMORPHS akan dicetak ulang sekitar musim semi/panas 2011. Hal ini sudah pasti dan sudah resmi.
Seorang editor di Scholastic sudah menyisir dua buku pertama untuk mengganti unsur-unsur yang ketinggalan zaman, mengirim beberapa saran perbaikan, dan meminta kami untuk memerbolehkan cetak ulang ini. Kami menyetujuinya.

Scholastic akan memerbarui sampulnya dengan sesuatu yang bernama sampul lenticular. Sejauh yang kami tahu sampul itu hanya untuk kedua buku pertamanya, lalu sepertinya mereka akan melihat hasil penjualan sebelum mencetak buku-buku lainnya.
Scholastic sudah meminta kami untuk memersiapkan video pendek untuk rapat penjualan di awal Agustus. Kami sadar orang-orang departmen penjualaan itu mungkin sama sekali tidak tahu apa arti ANIMORPHS bagi orang banyak. Jadi kami bertanya-tanya apakah anggota RAF mungkin tertarik untuk mengirimkan beberapa video klip singkat hanya untuk mengatakan bertapa ANIMORPHS sudah berarti bagi kalian. Video-video itu bisa dibuat spontan, atau bisa dari surat-surat menyenangkan yang sudah kalian kirimkan selama ini. Permintaan utama kami adalah agar video-video itu bisa didengar dengan baik. Gunakan kualitas terbaik yang kalian punya, tapi jangan terlalu khawatir kalau kualitasnya tidak bisa mendekati Avatar. Ketulusan lebih penting daripada teknik.
Kalau kamu mau memublikasikan surat ini, kami akan sangat berterima kasih.

Tolong beritahukan ke setiap orang yang ingin mengirimkan video mereka untuk mem-forward videonya ke jake@jakemates.com
Thanks,
Michael dan Katherine

Maap agak telat ya infonya, tapi siapa tahu ada yang tertarik… Videonya harus dalam bahasa Inggris sih. Kalau ada yang benar-benar serius mau mengirim video, e-mail saya dulu juga boleh. Tetap di ginger_shive@yahoo.com kok.

Makasih ya, soal terjemahan, saya sudah ketemu orang yang mau proofread betanya, jadi tinggal tungu waktu saja. 😀

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Coba Tebak

Oktober 28, 2009 at 11:36 pm (Uncategorized) ()

Apa isi berita ini.

Pending lagi. 😥
Mohon dimaklumi, yang pada setia nungguin terjemahannya, soalnya saya kuliahnya dikebut, jadi nggak banyak watu juga buat terjemahin….

Udah 80% selesai sebenarnya, tinggal event terakhir sama beta-reading terus selesai deh. #31 selesai tanggal 10 November mungkin ya.

Thaaanks.

Permalink 24 Komentar

#30 – The Reunion – Reuni

September 20, 2009 at 1:37 pm (Uncategorized) ()

Aaaaaaaa…..khirnya selesai juga.

Ini terjemahan paling repot rasanya. Naratornya Marco, banyak frase lokal yang saya nggak mengerti, temanya agak bikin depresi, ditambah saya ngerjainnya di asrama, privasi hampir nol…

Pusing. Tapi seneng karena sudah selesai. Enjoy yaa… #31 – The Conspiracy diharapkan (sangat) selesai akhir Oktober.

Permalink 7 Komentar

Broken Link Fixed!

September 20, 2009 at 12:43 am (Uncategorized)

Yep, bagi yang mau download linknya dah bener lagi.

Soal #30, lagi dalam proses editing, jadi kalau beruntung besok udah siap ‘ v ‘

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

« Previous page · Next page »