Legend of Korra!

Mei 1, 2012 at 7:33 am (Avatar: The Last Airbender) (, , , , )

Legend of Korra!! AAAAAA!


Memang review ini amat sangat telat karena bahkan sekarang episode 4nya sudah beredar di internet, tapi ya sudahlah. Ini review episode 1-2: Welcome to Republic City dan A Leaf in he Wind.

Ah sudah lamaaa… lamaaa sekali rasanya saya nggak melihat dunia penuh warna dan animasi gerakan akrobatik lincah yang khas sekali buah karya Mike dan Bryan. Rasa nostalgia itu lumayan menusuk bahkan dari frame pertama. Demonstrasi empat elemen, sedikit prolog tentang sejarah yang sudah berlalu dan berlanjut ke inti ceritanya. Bagi seroang fan, walau saya hanya duduk di balik laptop sambil melotot dan mengepalkan tangan, pengalaman ini amat amat sangat menyenangkan! 😀

Kisah ini tidak dibuka dengan misteri. Bahkan mereka langsung memaparkan tokoh-tokoh penting di episode pertama. Sebut saja Katara yang sudah menua, Tenzin beserta keluarga, putri Toph, lalu tim Fire Ferrets yang saya yakin akan berperan penting nantinya dalam perjalanan Korra. Korra sendiri saja masuk layar dengan penuh semangat dan ledakan dimana-mana.

Tenzin paling depan, Meelo di kepalanya, kedua anak perempuannya Jinora dan Ikki serta istrinya Pema

Sebenarnya summary Legend of Korra yang katanya hanya beberapa belas episode ini adalah tentang dunia Four Nations setelah generasi Aang berlalu. Karena Fire Nation sudah tidak berkuasa penuh, sekarang dunia hanya memiliki satu ibukota yaitu Republic City dimana bender segala elemen dan non-bender tinggal bersama. Sayangnya masalah baru dimulai ketika muncul gerakan anti-bender yang menginginkan kesetaraan dengan cara menghapus eksistensi para bender. Disinilah entah bagaimana Korra harus bisa bertugas sebagai Avatar yang baru dan mengembalikan ‘balance’ bagi semua pihak.

Di kedua episode pertama, konflik yang disajikan masih belum menggali ke inti masalah di series ini, hanya sekedar menyinggung. Dari masalah pengembangan bending Korra sampai protes-protes anti-bending sebagai permulaan. Atmosfir penuh semangat dan harapan masih sangat terasa di episode-episode awal, hanya sekelibat informasi tentang sang Bad Guy (Amon) di akhir episode saja yang meninggalkan tanda tanya.

Animasi top notch seperti biasa, kualitas martial arts dan bending yang digambarkan oleh Mike dan Bryan memang benar salah satu kebanggan mereka (dan tentunya kebangaan para fans). Dubbing ekspresif, kental dengan karakter. Saya bahkan sedikit melihat Zuko di sini, pecahan Aang di sana, Toph di situ… Budaya Asia yang dipadu-padankan menjadi satu dunia fantasi tersendiri, ditambah percikan norma dan humor Amerika di sana sini juga termasuk keunikan yang mungkin akan disukai orang-orang yang familiar akan kekontrasan budaya tersebut. Memang agak kaget melihat betapa banyak perubahan yang dilakukan seperti bertambah banyaknya machinery, adanya liga Probending, makin ketat dan modernnya tata kota, tapi hal-hal tersebut menunjukkan keinginan Mike dan Bryan untuk menjadikan time lapse yang terjadi di Four Nations se-realistis mungkin.

Probending. Bersama teman baru Korra: Mako dan Boulin

Tapi jangan harap Anda akan menemukan sesuatu yang bloody, gory, mengerikan dan terlalu dalam di series, ini, karena mau bagaimanapun juga ini adalah serial yang diputar di Nickelodeon. Malah menurut saya itu juga salah satu nilai plus dari serial ini  karena membuat saya kembali ke masa kecil lagi tanpa ada kekhawatiran berlebih akan apapun. Dan lewat hal-hal sederhana seperiti Good vs Evil dan Persistence Rocks! yang dipaparkan, kita masih bisa belajar banyak.

Saya tidak kecewa dengan premiere Legend of Korra. Pendahulunya, Legend of Aang benar-benar saya nikmati dan itu cukup untuk membuat saya merasa bahwa apapun yang Mike dan Bryan buat tidak akan mengecewakan. Ternyata benar. Mereka tetap berpegang pada values yang mereka pakai ketika membuat Aang dan itu membuat saya terus menanti kelanjutan Korra.

Iklan

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Seirei no Moribito – Guardian of the Sacred Spirit

Oktober 23, 2010 at 7:16 am (Anime) (, , , , )

Nahji, koikoi. Nahji, koikoi….*

🙂

Saya kira saya nggak bakal bisa disentuh lagi sama anime. Syukurlah saya benar…

…benar SALAH.

Entah apa yang mencegah saya menonton anime ini pada saat lagi diproduksi (2007), tapi saya bersyukur kesempatannya datang sekarang, dimana saya sudah lelah dengan segala tipikal cerita anime yang saking dramatisnya makin nggak realistis, dengan karakter yang sifatnya itu-itu saja, dengan fanservice yang ditebar bikin capek, animasi gawat yang bikin frustasi…. aaah…

Dan Seirei no Moribito adalah kebalikan dari semuanya itu. Saya bersyukur sekali masih bisa menonton anime seperti ini, serasa menonton karya Miyazaki yang diperpanjang jadi 12 jam, dan hal itu sangat menyenangkan. Animasinya luar biasa, detail pemandangannya, pergerakan tiap karakter, pergerakan benda-benda, pergerakan alam… Luar biasa. Kualitas sebuah movie, dan sama sekali tidak menurun selama 26 episode. Musik yang indah dan sangat cocok dengan tiap scene yang ada, adegan pertarungan yang dipuji oleh semua pihak (terlebih lagi adegan tersebut jarang ada, hanya kalau perlu saja, begitu realistis,) pengembangan karakter yang mendalam, dan cerita yang mampu mencengkram perhatian (ini salah satu anime yang bisa membuat kita menjadi manusia yang lebih baik setelah menontonnya, serius. Haha.) Apa lagi?

Pertama kali melihat ulasannya di Animonster 3 tahun lalu, saya punya banyak harapan terhadap anime ini. Dan waktu pun berjalan, saya melupakannya untuk beberapa waktu, lalu ketika saya sedang iseng mengingat-ingat judul anime yang sepertinya potensial untuk ditonton, Seirei no Moribito muncul. Saya download semua episodenya dan menontonnya, kadang pelan-pelan, 1-2 episode per hari, kadang maraton kayak hikikomori nggak ada kerjaan. Lalu hari ini, hari dimana saya harusnya melakukan persiapan final untuk ikut IndonesiaMUN, saya menyelesaikan sebagian akhir episodenya. Betapa melegakan. Sedih, menyenangkan, menginspirasi, memuaskan.

Sebenarnya jalan ceritanya itu tentang seorang wanita berusia 30 tahun, Balsa, yang berprofesi menjadi bodyguard, bersenjatakan tombak, dan sedang dalam perjalanan memenuhi misinya untuk menyelamatkan 8 orang nyawa manusia sebagai ganti nyawa 8 orang sahabat yang sudah ‘dia’ bunuh di masa lalu. Dan datanglah kesempatan untuk menyelamatkan nyawa kedelapan, nyawa seorang Pangeran (Pangeran Kedua,) Chagum, yang terancam karena ayahnya sendiri, sang Kaisar, ingin membunuhnya. Alasannya adalah sang Pangeran kecil ini ditafsirkan sedang membawa sebuah telur roh setan air dalam dirinya, yang ketika menetas, akan membawa kekeringan panjang bagi seantero kerajaan. Permaisuri Kedua, ibu Chagum, akhirnya memutuskan untuk menyewa Balsa untuk menjaga anaknya seumur hidupnya. Balsa pun setuju.

Saya nggak bisa lanjut sama ceritanya, soalnya dia punya banyak twist di tengah series yang kalau dijelaskan bakal memakan 2 kali panjang review saya terhadap Ender’s Game. Satu hal yang mau saya tekankan adalah orang yang bisa menerima Moribito dengan sepenuh hati sepertinya hanya pecinta anime dewasa yang sudah lewat masa-masa ‘Naruto’ dan ‘Bleach’-nya. Yang ingin mengerti apa arti ‘cerita’ itu sesungguhnya dan sudah punya sedikit pengalaman untuk meletakkan hal-hal pemuas indra seperti fanservice berbau seks, eye-candy, dan drama gila-gilaan di posisi yang lebih rendah daripada kebijaksanaan. Tapi mereka yang tidak termasuk golongan ini pun bahkan bisa memuaskan diri dengan segala detil yang ada. Sepertinya…

Betapa realistisnya Seirei no Moribito walaupun memiliki unsur fantasi juga merupakan satu hal yang patut diacungi jempol. Hubungan antar karakter, cara masing-masing individu berusaha bereaksi terhadap semua hal… (saya masih belum lupa bagaimana Shuga menahan diri memberikan informasi terhadap Pangeran Sagum, tidak menyadari bahwa itulah saat-saat terakhir hidupnya,) dan pertumbuhan personal (Chagum itu karakter yang luar biasa (: ) dapat saya rasakan terjadi pada siapa saja di dunia nyata ini. Walaupun beberapa orang memprotes bahwa tidak ada karakter yang benar-benar dari sononya jahat, sepertinya semua karakter berniat baik, tapi ya sudahlah. Intrik politik yang ada sudah cukup memancing pikiran saya. Bahkan anime ini sendiri sebenarnya diangkat dari buku yang ditujukan kepada anak-anak. Production I.G. memang keren, haha.

Pokoknya ini salah satu anime terbaik yang pernah saya tonton. Huff.

Sekarang lanjut IMUN, berharap saya mendapat kekuatan ekstra.

*Nahji = Nama burung yang seharusnya mengantar telur roh air dalam tubuh Chagum ke laut untuk memberikan berkatnya kepada kerajaan.

*koikoi = Come, come. Kemari, kemari.

Permalink 4 Komentar

Howl’s Moving Castle (Istana yang Bergerak) – Versi Buku

September 11, 2010 at 2:52 am (Buku) (, , , , , , )

Highlight pertama:

TERJEMAHANNYA JELEK.


Jelek sekali. Hiks.

Saya tahu buku ini sudah terbit dari beberapa waktu yang lalu, tapi baru kemarin sempat membeli dan membacanya. Terdorong keingintahuan karena baru-baru ini saya menonton ulang versi animenya yang lagi-lagi dikerjakan oleh Studio Ghibli. Sayangnya di buku ini, jelas sekali si penerjemah kurang pengalaman dalam menerjemahkan. Di paragraf-paragraf terntentu saya bisa merasakan kalau dia mulai malas dengan kerjaannya dan mengartikan asal saja, terlalu harfiah, nggak berusaha merangkai kata yang dapat dipahami pembaca Indonesia tanpa melenyapkan kekhasan gaya bahasa Inggris. Ia juga nggak bisa menyampaikan emosi-emosi yang terselubung dalam berbagai kalimat tertentu yang saya yakin seharusnya memberikan dampak kuat bagi para pembaca dalam bahasa aslinya. Jadi dengan sukses dia menyulap adegan lucu jadi hambar, kalimat-kalimat cerdas jadi kumpulan kata tanpa arti dan plot cerita jadi nggak jelas juntrungannya ke mana. Saya kesal dan kecewa.

Dan saya yakin akan penilaian saya ini bahkan sebelum saya membaca yang versi aslinya. Kenapa?

Diana Wynne Jones sendiri sebagai sang pengarang sangat dihormati dan diakui di negara asalnya, jadi saya yakin ketidaknyamanan membaca saya kebanyakan adalah salah sang penerjemah. Dan bahkan dengan terjemahan seburuk itu saya masih bisa mengatakan bahwa buku ini sangat menghibur dan menyenangkan untuk dibaca.

Plotnya jauh berbeda dengan film, tapi kedua versi sama bagusnya. Karakter-karakter versi film ternyata banyak yang diubah penampilannya, seperti Sophie, Witch of the Waste, Michael (jadi Markl di film,) dan Suliman. Disini juga jumlah karakter yang memainkan peran masing-masing ada lebih banyak.

Hal yang membuat saya suka pada buku ini adalah keunikan cerita dan twist-twistnya. Walaupun termasuk bacaan ringan, saya tahan juga nggak meletakkan buku ini sebelum halaman terakhir. Keputusan Jones untuk nggak menjelaskan beberapa hal krusial dalam bukunya (seperti deskripsi total tentang cara sihir bekerja dan cara Howl berpindah antar dunia,) juga merpakan hal yang baik menurut saya. Hal itu membuat kita nggak hilang arah dari cerita utamanya, dan meninggalkan beberapa bagian cerita untuk kita imajinasikan sendiri, meskipun saya akan lebih senang kalau hal-hal tersebut ia jelaskan. Twistnya mengagetkan dan datang di saat yang tepat. Sudah lama saya nggak membaca buku dengan twist pintar seperti ini, jadi saya senang juga.

Jones juga piawai dalam menggambarkan keunikan sifat para karakternya dan menyusun puzzle yang petunjuknya ia jatuhkan di kalimat-kalimat tertentu (tentu saja semuanya dikacaukan dengan jasa sang penerjemah yang nggak berusaha terlalu keras untuk memahami isi cerita ini.) Ide-ide kreatif bertebaran dimana-mana. Saya rekomendasikan ke siapa saja yang suka fantasi, tapi BACA BAHASA ASLINYA SAJA.

Rating: 8/10

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Earthsea Cycle – A Wizard of Earthsea

September 9, 2010 at 2:20 am (Buku) (, , , , , )

Fuwaaaah…. istirahat dulu dari realm science fiction dan kembali singgah ke dunia fiksi yang memenuhi masa kecil saya: epic fantasy.
Liburan kuliah yang menyenangkan ini memungkinkan saya memakai waktu berleha-leha untuk mencari film-film bagus yang tersebar di seantero internet. Dan saya memanfaatkan kesempatan emas ini untuk megecek perkembangan salah satu studio animasi terbaik yang saya ketahui: Studi Ghibli. Saya ingat saya belum sempat menonton Tales from Earthsea yang mereka produksi baru-baru ini. Film ini diadaptasi dari serangkaian buku Earthsea Cycle karangan Ursula K. LeGuin, terbitan tahun 60-an, salah satu seri buku Epic Fantasy yang paling digemari dan paling banyak diberi penghargaan di luar sana.

Variasi cover buku A Wizard of Earthsea, buku pertama Earthsea Cycle

Setelah menonton Tales from Earthsea dan menyadari bahwa banyak yang kecewa dengan film ini karena nggak berhasil menggambarkan atmosfir yang sama seperti yang diciptakan oleh bukunya, saya lalu tergelitik untuk mencari tahu aslinya itu emang seperti apa. Saya pun menelusuri dunia maya tanpa hasil, berniat menyerah dan beralih ke buku-buku karya LeGuin lainnya ketika pada suatu hari yang membahagiakan, mama saya mengajak saya ke Gramedia dan disana saya menemukan versi Indonesianya. Hah!


Saya memelas dengan sepenuh hati minta dibelikan dan memang dibelikan. Benar deh, saya bahagia. Nggak menyangka masih ada peluang bagi buku-buku tua seperti Earthsea Cycle untuk dilirik penerbit Indonesia. Yah, dengan pengalaman diterjemahkannya Narnia dan Three Kingdoms dan buku tua lainnya seenggaknya harapan saya masih tinggi bahwa buku bagus akan menemukan jalannya ke para pembaca…

Lanjut. Buku ini bercerita tentang Sparrowhawk yang bernama Sejati Ged, seorang anak yang dilahirkan tanpa mengetahui bahwa dirinya memiliki kekuatan sihir yang sangat dahsyat. Setting ceritanya adalah Earthsea, dunia datar dimana sihir merupakan hal yang umum, benda-benda dan bintang-bintang memiliki setiap nama Sejati yang hanya diketahui penyihir-penyihir kuat untuk dikendalikan, dan makhluk-makhluk magis berkeliaran dimana-mana. Yah, kombinasikanlah Lord of the Rings, Harry Potter, dan berbagai macam fiksi barat lainnya yang Anda ketahui untuk bisa membayangkan dunia ini. Bahkan LeGuin juga mendedikasikan waktunya untuk mereka sebuah peta Earthsea yang menjadi acuan pembaca selama perjalanan Ged berlangsung, yang selalu saya lirik berkali-kali agar tidak kehilangan arah.

Sparrowhawk akhirnya diperkenalkan ke dunia sihir dan sampai ke sekolah sihir terhebat di Earthsea, terletak di Roke. Setelah lulus dan mendapatkan statusnya sebagai penyihir, dia pun berkeliling dunia. Inti dari perjalanan Sparrowhawk adalah menemukan kembali makhluk kegelapan yang telah dilepaskannya semasa dia masih bersekolah dan memusnahkannya karena makhluk itu membawa bahaya besar bagi dirinya dan orang lain seandainya makhluk itu sampai mengalahkannya. Kalau saya ringkaskan begini kedengarannya begitu sederhana, tapi saya kaget sendiri akan kuatnya dunia Earthsea menyerap perhatian saya. Gaya bahasa LeGuin tidak mengeksplotasi dialog antar-karakter (mungkin seperti inilah semua gaya bahasa buku-buku tua,) lebih ke arah deskriptif dan kontemplatif. Saya juga mengakui kalau terjemahan bahasa Indonesianya termasuk baik sekali, rasa puitisnya tidak hilang walau tentu sang penerjemah pasti kesal dengan terbatasnya kosakata bahasa Indonesia dalam mendeskripsikan segala sesuatu (sebagai sesama penerjemah seenggaknya saya juga sudah tahu rasanya :p).  LeGuin juga menulis dengan cara yang sangat meyakinkan, setiap kalimat yang ia sampaikan hanya menyiratkan seberapa dalam pengetahuannya akan dunia rekaannya ini, seberapa lama ia sudah memikirkan segala detil dan hal-hal kecil yang ada. Nama-nama daerah, karakteristik penduduk, legenda-legenda lokal, tragedi, festival, penggambaran laut, daratan dan bintang, cara sihir digunakan, semua itu dibangun begitu kokoh. Jelas ia penulis yang penuh rencana dan imajinasi, dan sebagai pembaca mau tak mau saya dibuat takjub akan kepiawaiannya ini.

Selain gaya, tema yang diangkat juga begitu menarik hati. Mengejar bayangan sendiri yang diciptakan dari bagian hati yang tergelap. Sang bayangan memburu Sparrowhawk selama bertahun-tahun ia hidup, setiap kali bertemu dengan makhluk itu ia terpaksa lari karena sang bayangan mengetahui nama Sejatinya dan terus memaksa Sparrowhawk kabur darinya. Hanya setelah ia memberanikan diri untuk berbalik dan menjadi pemburu bagi si bayangan itu sendiri alih-alih diburu, barulah ia dapat bebas dari cengkeramannya. Sangat cocok dengan kisah hidup begitu banyak manusia di dunia yang jauh berbeda ini. Kita seringkali hanya bisa lari dari kesalahan terbesar kita tanpa berani menoleh ke belakang dan berbalik mengejar dia, memandangnya mata-ke-mata dan menerimanya sebagai bagian dari diri kita, sama seperti Ged yang akhirnya bersatu dengan bayangannya. Sesuai dengan pepatah tiada kata tanpa kesunyian, terang tanpa gelap, yin yang, putih hitam, semacam itu.

Ide-ide filosofis yang tersebar di halaman-halaman ini juga membuat saya rindu akan suatu hal yang saya tidak tahu apa. Kalimat-kalimat yang dapat diartikan secara harfiah di novel ini hanya bisa menjadi alegori bagi dunia nyata. Memang buku itu pelarian yang menyenangkan, tapi tetap sebuah pelarian. Kita yang lahir di Bumi ini harus tunduk pada aturan Bumi yang lebih kuat daripada kita. Yah, yasudahlah.

Dalam satu buku yang termasuk pendek ini (hanya 334 halaman dalam bahasa Indonesia,) LeGuin sudah memperingatkan bahwa masih ada banyak sekali untuk diceritakan di buku-buku lainnya. Sparrowhawk sendiri sudah dikatakan akan meniti jalan menjadi Archmage, penyihir terkuat di Earthsea, tapi dengan memberitahu hal ini LeGuin menekankan bahwa yang penting untuk dikisahkan adala prosesnya. Saya setuju, dan saya menantikan dengan sangat lanjutan terjemahan buku Earthsea Cycle lainnya.

Rating: 9/10

Permalink 2 Komentar

Shadow Quartet

September 7, 2010 at 9:35 am (Buku) (, , , , , , , )

Yeeppp. Lagi-lagi nggak tahan buat nggak ngoceh setelah baca buku. Ayo kita mulai dengan Shadow Quartet dulu. Lanjutan Ender’s Game yang berfokus pada teman-teman Ender.

Oke. Pertama Ender’s Shadow, semacam parallel novel yang settingnya persis sama dengan Ender’s Game cuma dilihat dari perspektif Bean. Siapa Bean itu? Seorang anak bertubuh sangat kecil yang lahir dari percobaan genetik yang memungkinkan dia menjadi orang terpintar di Bumi dengan ongkos umur pendek akibat dia akan terus bertumbuh menjadi raksasa karena otaknya juga tak berhenti bertumbuh. Disini diceritakan jalan hidup Bean sejak dia kecil, kesusahannya jadi anak jalanan di Rotterdam setelah lari dari laboratorium tempat ia dibuahi secara in-vitro dan dirawat semasa bayi, pertemuannya dengan Achilles, Poke dan Suster Carlotta, dan ke Battle School. Disanalah dia bertemu dengan Ender dan di-klaim menjadi backup atau plan B seandainya Ender gagal menyelamatkan para manusia dari Bugger. Dan di buku ini pula kita diperkenalkan dengan istilah Ender’s Jeesh (jeesh adalah bahasa Arabnya laskar,) yang berarti  anak-anak yang ikut bergabung membantu Ender di pertarungan terakhir mereka di Command School yang berakibat musnahnya ras Bugger.

Buku ini juga cukup luar biasa walaupun untuk saya Ender’s Game masih nomor satu. Card menggambarkan karakteristik Bean si jenius dengan sangat meyakinkan, meletakkan posisinya sebagai pembuat strategi yang sebenarnya lebih baik daripada Ender. Bean bisa menganalisis suatu kasus dari data yang begitu sedikit, mengetahui tujuan sebuah aksi dan menebak berbagai hal yang Ender sendiri tidak pernah tahu hanya atas dasar logika. Tapi biarpun Bean jauh lebih pintar daripada Ender, Card juga berhasil menyampaikan pesan bahwa Ender lebih superior dalam kepemimpinan dan pemahaman watak manusia dimana hal itulah yang dibutuhkan oleh seorang Battle Commander. Fokus Bean saat itu adalah bertahan hidup, dibayangi trauma masa kecilnya yang begitu menyedihkan di jalanan Rotterdam sehingga ia tidak sehangat Ender, tidak bisa membuat orang menyukai dirinya seperti Ender, membuat semua temannya begitu loyal dan berani mati demi dirinya. Ending buku ini lebih happy daripada Ender’s Game karena Bean akirnya menemukan orangtua aslinya di Bumi dan saudara kandungnya di Battle School.

Lanjut ke ketiga buku Shadow selanjutnya. Shadow of the Hegemon, Shadow Puppets dan Shadow of the Giant adalah kumpulan drama politik dengan setting yang dibuat sekaya mungkin, penuh dengan referensi sejarah dan taktitk militer. Atmosfirnya jauuuh sekali beda dengan kedua buku sebelumnya. Inti cerita sekarang adalah kisah hidup para anggota Ender’s Jeesh dan lulusan Battle School lain di Bumi setelah para Bugger tiada. Karena Ender tidak diperbolehkan pulang ke Bumi, merekalah tokoh-tokoh kunci yang berperan penting membentuk sistem pemerintahan dan memainkan perang-perang besar di Bumi. Karakter yang paling dikembangkan disini adalah tentu Bean (yang akhirnya diketahui bernama asli Julian Delphiki,) Petra Arkanian, salah satu anggota Ender’s Jeesh, Achilles si tokoh jahat dari masa kecil Bean, Peter Wiggin kakak Ender yang berupaya menyatukan dunia, orangtua Ender John Paul dan Theresa Wiggin, Han Tzu dan Alai, anggota Ender’s Jeesh juga, serta beberapa karakter lain seperti Virlomi (India) dan Suriyawong (Thailand), lulusan Battle School.

Jujur, dibandingkan dengan Ender’s Game dan Ender’s Shadow dimana setting ceritanya masih di sekitar luar angkasa, saya malah makin sulit mencerna ketiga buku terakhir ini. Padahal saya anak Hubungan Internasional, yang harusnya makan drama politik tiap hari. Card memang terbukti ahli dalam bidangnya, dia mengerti sekali tabiat para pemimpin besar di masa lalu, tahu arah sejarah kontemporer, dan berani mengaplikasikannya ke dalam sebuah tatanan dunia yang ia ciptakan sendiri. Mendengar kalimat-kalimat seperti ‘India memiliki populasi terbesar di dunia,’ ‘Amerika menarik diri dari pergolakan militer dunia karena tidak pernah melihat aksinya membuahkan sesuatu selain cercaan dan sakit hati,’ ‘Eropa adalah kumpulan negara tua yang lelah dan ketinggalan jaman,’ merefleksikan ramalan pribadinya terhadap dunia masa depan setelah dipaksa bersatu untuk merespon ancaman alien dan akhirnya pecah lagi setelah ancaman tersebut terhapuskan.

Pengembangan karaternya cukup baik, dari Bean yang makin lama makin jatuh hati dengan Petra lalu menikahinya, Peter yang dengan dukungan orangtuanya akhirnya membentuk Free People of Earth (semacam PBB) dan dikenang sebagai salah satu orang paling baik dan berpengaruh sepanjang masa walaupun di masa kecil dia kasar sekali terhadap Ender dan Valentine, Virlomi yang mulai terkena delusi bahwa dia terlahir sebagai Dewi pembimbing India, Han Tzu yang naik ke tahta Emperor Cina, Alai yang dimahkotai sebagai Khalifah umat Muslim di penjuru dunia, sampai Achilles yang menemukan bakat asli dan iblis dalam dirinya untuk menjadi tokoh antagonis utama di ketiga buku ini.

Tapi tetap saja saya kesulitan membawa buku ini ke hati.

Dialog-dialog yang Card bawakan tetap tajam seperti biasa, sayangnya sering semua karakter terkesan seperti bicara dan berpikir dalam satu suara. Para lulusan Battle School dan anggota-anggota Ender’s Jeesh ini saking pintarnya mereka bisa melihat dua-tiga langkah ke depan dan menebak semua sebab-akibat dengan benar. Betapa membosankan dan monoton, saya kira. Analisis Bean yang terlalu dieksploitasi, penjabaran tentang manuver politik seperti “negara apa lawan negara apa, kenapa bisa begitu, apa konsekuensinya dan bagaimana cara kita berperang” terlalu didiktekan seperti buku pelajaran formal. Adegan-adegan yang seharusnya membangkitkan emosi tidak bisa mengulurkan tangan dan mencapai hati saya lagi karena saya terlalu lelah memproses semua detail yang ada.

Dalam peta mental saya, dari buku Ender’s Game, cabang Shadownya makin lama kualitasnya makin menurun kecuali Ender’s Shadow. Bukan berarti ketiga buku ini total tak perlu dibaca, bukan. Saya akan tetap merekomendasikannya bagi siapa saja yang ingin mencari buku bagus, tapi kalau rasa suka Anda dan keinginan Anda untuk setia pada serial ini tidak terlalu besar, mungkin Anda akan lebih kelelahan daripada saya. Mengecek angka halaman setiap kali untuk mengira-ngira kapan halaman terakhir tiba.

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Movie! The Last Airbender

Agustus 7, 2010 at 2:22 am (Avatar: The Last Airbender) (, , , )

Astaga. AAASTAGAAA.

Oke, sebelum saya mulai menumpahkan apa-apa di blog ini, saya mau memberitahu beberapa fakta:

  • Saya sekarang sudah jadi penggemar serial TV Avatar The Last Airbender (TLA) selama lebih dari tiga tahun, saya gabung ke forum internasional TLA avatarspiritmedia.net tahun 2007 dan masih aktif sampai sekarang
  • Saking sukanya saya sama TLA, saya ikut kena euphoria Season 3 waktu itu, setiap episode baru keluar di AS sono, langsung saya download
  • TLA sudah punya tempat spesial di hati saya, dan hal itu nggak akan berubah, nggak peduli se’kurang-memuaskan’ apapun kualitas film live-actionnya.

Nah, sekarang ayo lanjut ngerumpiin film-live actionnya.

Movie-Yang-Namanya-Tak-Boleh-Disebut ato Kau-Tahu-Apa :p

*Tarik napas*

Sekali lagi: ASTAGA. Jujur, langsung setelah saya selesai membuang 6o ribu saya (buat saya dan adik) untuk menonton versi 3Dnya (yang saya ngga bisa rasakan wah-nya sama sekali soalnya mata saya rusak :p,) saya kecewa sangat. Sangat kecewa, kecewa sangat, pokoknya begitulah. Bolehlah CGI-nya lumayan, soundtracknya manis abis, beberapa adegan bending juga mantep. TAPI…

Pelafalan Nama Karakter

Banyak yang mengeluh soal Aang jadi Oooong (ugh), Iroh jadi Eeeroh, Sokka jadi Sah-ka dan sebagainya. M. Night Shyamalan (MNS saja biar ringkes) sebagai sutradara mengukuhkan kalau dia ingin membuat lafal karakternya secocok mungkin dengan pelafalan asli di Asia (memang sih, kalau pakai lidah Indonesia, pengucapan nama karakter di Movie!TLA itu tepat,) tapi sayangnya fandom TLA jengah dengan hal itu. Saya termasuk. Maksudnya begini, selama bertahun-tahun fandom sudah terbiasa dengan lafal Inggris nama karakter Series!TLA, kenapalah lagi harus diganti-ganti? Kalau mau dianalisa, dengan kualitas Movie!TLA yang se-mengecewakan itu, Shyamalan nggak mungkin berharap dia bakal bisa merubah pola pikir (dan cara pengucapan) seantero fandom TLA kan?

Pemeran dan Akting


Noah Ringer itu… cakep ya? Cocok jadi Aang (Ong :p)…. ya? Tapi jujur, aktingnya RUSAK. Kalau saya dan teman-teman forum mulai diskusi tentang dia, kami semua setuju dia punya potensial, tapi sama sekali nggak dipergunakan di film ini. Sebagian dari kami menyalahkan MNS karena ngga bisa menuntun aktinya secara benar, tapi sepertinya Ringer juga butuh lebih banyak pengalaman untuk bisa menjadi Aang yang baik dan benar. Karena seingat saya sama sekali nggak ada Aang di Movie!TLA kemarin…

Nicola Peltz sebagai Katara, Jackson Rathbone sebagai Sokka (Sahka :p). Soal mereka… beberapa waktu saya harus tercengang lemas melihat akting mereka di adegan-adegan yang seharusnya membangkitkan emosi, tapi malah menggelikan dan nggak meyakinkan, selevel sinetron-sinetron Indonesia yang menyayat akal sehat. Saya bahkan bisa ambil kesimpulan kalau semua akting yang disuguhkan oleh MNS di Movie!TLA ini OOC .Out of Character, yang berarti tidak sesuai dengan karakter aslinya. Yang paling mending menurut saya Dev Patel sebagai Zuko. Dia yang paling banyak pengalaman, dan paling bisa mengutarakan dialog-dialog tak berlogika dengan gaya yang nggak memalukan… *menghela napas*

Hanya sampai sekarang saya nggak mengerti apa yang ada di pikiran MNS waktu dia memilih pemain-pemaninnya. Saya bicara RAS sekarang. Dan saya sama sekali nggak ada maksud mau menyinggung ras manapun, tapi kenapa oh kenapa pemeran anggota Movie!GAaang (Gengnya Aang) semua berkulit putih? Dan para warga Fire Nation jadi ke India-India-an? Zhao tanpa brewoknya dan Ozai tanpa kumisnya kelihatan nggak berciri khas lagi menurut saya. Sayang sekali.

Script dan Plot

Ini, saudara-saudari sekalian, merupakan unsur YANG PALING DIKELUHKAN. Para fans TLA yang memakai sedikit nalar kalau berkomentar pasti mengerti kalau ada banyak sekali hal yang harus diubah dan diganti demi merangkum isi Season 1 jadi satu film, tapi kami semua nggak siap dengan kenyataan bahwa perangkumannya akan SEHANCUR itu. Aaaah teman-teman fans sejati TLA di Indonesia…. mengertikah kalian perasaan saya? Pemenjaraan Earthbenders di tempat YANG DIKELILINGI TANAH, Katara yang MENGAJAK AANG BICARA WAKTU DIA SEDANG BERMEDITASI, Firebenders yang HARUS MEMBAWA SUMBER API untuk bertarung…. astaga. Tuhan di Kerajaan Surga: ASTAGA.

…uff.

Dan saya masih belum komplain soal pemotongan adegan yang tergesa-gesa, dialog-dialog yang mungkin bakal lebih baik kalau dibuat anak SMA penggila TLA, adegan-adegan yang ngga sinkron, Avatar State yang nggak dijelaskan asal-muasalnya, bolak-baliknya Zhao ke Fire Nation cuma buat ngelapor ke Ozai (weleeeeh,) dan para Earthbender di adegan penjara yang harus melakukan dansa rumit sebelum menggerakkan batu sebesar bola sepak (uhuhu. Panggilan sayang buat adegan itu sekarang Pebble Dance, alias Dansa Kerikil.)

Yah, kalau ada dari kalian yang berniat menertawakan aspek-aspek Movie!TLA ini, tinggal ke forum-forum TLA aja, ato YouTube ‘reaction after watching The Last Airbender,’ ato kesini: http://community.livejournal.com/wtf_tla/2170.html#cutid1 Semua dalam bahasa Inggris pastinya, jadi saya nggak usah nulis yang aneh-aneh lagi disini, saya menulis hanya buat menegaskan luka hati para fans Indonesia :/

Yah, saya berdoa dengan sepenuh hati supaya sequelnya bukan Shyamalan lagi yang pegang. Kalau nggak ada sequel juga nggak masalah, biar nggak jadi onggokan budget dan CGI pengundang olok-olok kritik.

Lebih lagi Shyamalan punya ego sebesar bulan hingga sampai detik ini dia percaya dia sudah menciptakan KARYA BESAR.

Oh, astaga.

Shyamalan, jangan kau sentuh lagi TLA.

Saya mohon.

0_0

Bryan, Mike, sebagai pencipta TLA tolong lindungi karya kalian.

Aaaah

Aduuuh.

Aduh.

Permalink 3 Komentar