Alive – The Final Evolution

Januari 4, 2011 at 6:40 am (Buku) (, , , , )

Saya nggak pernah menulis review (baca: curhatan kopong) tentang manga sebelumnya yaa… Kalau begitu ini yang pertama. Memang baru sempat ketemu motivasinya sekarang sih.

Kali ini judulnya Alive – The Final Evolution

Kira-Kira Semua Tokoh Pentingnya Ada Disini

Salah Satu Cover yang Paling Saya Suka

Awalnya akan tekesan seperti manga shonen yang biasa; tentang tiga orang sahabat, karena kedatangan sebuah entitas supranatural yang satu jadi antagonis utama dan yang satu jadi protagonis utama. Si karakter ketiga – sang gadis – akan jadi Yang Diperebutkan, diculik dan berusaha diselamatkan. Begitulah.

Ooo, betapa kita harus melihat sedikit lebih jauh dan dalam. Banyak hal yang (bagi pembaca manga yang agak seniordanberumursepertisaya) jarang atau tidak pernah kita temukan dalam seri manga shonen lainnya yang sama-sama bertemakan action. Karakter utama yang tidak bodoh dan bertarung hanya demi alasan bertarung, nilai-nilai filosofis yang tidak terkesan terlalu emo dan self-centered yang biasanya populer di kalangan remaja ababil, cerita yang kuat, alur yang terencana… Malah semakin mengikuti alur, saya semakin menikmati unsur drama didalamnya dibanding fightingnya. Satu hal yang perlu saya sampaikan, di manga ini karakter utamanya adalah Kanou Taisuke, tetapi begitu banyak karakter lainnya yang memiliki ciri khas spesial dan unik sehingga sekali mengenal mereka akan sulit untuk melupakannya, dan dengan artwork sedetail itu sangat mudah membedakan satu dengan yang lain.

Kedua pihak pembuat, si penulis dan ilustrator, juga seperti menemukan chemistry sendiri dalam membuat Alive. Aliran panel terasa begitu cocok dengan dialog yang ada, dan mungkin karena kedua ilustratornya adalah wanita, manga ini trasa lebih ‘indah’ dari manga-manga ‘untuk cowok’ lainnya. Tapi justru ini hal yang sangat bagus, secara berkali-kali saya ter’waaaw’ dengan epiknya artwork mereka dan betapa tepatnya mereka menggambarkan latar belakang dari padang berumput sampai kota hancur bergelimpangan mayat yang mengingatkan saya dengan gempa di Haiti, sampai barang-barang dari sepatu kotor hingga tank-tank militer. Secara visual, manga ini ada di atas sana.

Soal plot pun tidak masalah, sanagt enak untuk diikuti. Dibawakan dengan rentang waktu dan kesan nyata didalamnya (aduh saya memang suka dengan cerita-cerita fantasi yang dibuat realistis hoho,) mampu membawa emosi pembaca dan ingatan akan hal-hal yang mungkin terpikirkan oleh kita, dari masa kecil kita, hubungan antar-manusia yang kita jalani, mimpi-mimpi kita, ataupun keadaan sekitar kita yang biasa menjadi rutinitas. Tidak heran setelah kesal menunggu chapter yang nggak kunjung muncul di internet, saya selalu teringat untuk kembali mengecek dan mengecek, merasa wajib untuk menyaksikan akhir kisahnya. Hmm memang itulah kekuatan manga bagus ya, bisa membisikkan peringatan di telinga seseorang. Tapi… memang, saya nggak terlalu diyakinkan oleh konsep villain dari luar angkasa yang ingin membawa manusia pada evolusi terakhirnya melalui kematian, dan saya juga nggak suka cara mereka mengembangankan karakter Hirose yang jadinya stereotipikal sekali, tapi yah… semua simpul diikat dengan rapi di halaman terakhir.

Kesimpulannya ini salah satu manga shonen remaja terpenting yang pernah saya baca, saya menyukainya. Sip.

P. S: Ngomong-ngomong habis baca kata-kata terakhir scanlatornya, tentang sang penulis yang berusaha menyelesaikan cerita ini di tempat pembaringannya yang terakhir, saya jadi terharu sendiri.

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar